Oleh: Sang Detektif Logicalfallacy
Politik itu bukan sulap. Tapi di daerah kita, politik sering disulap jadi sandiwara.
Sandiwara yang pemainnya itu-itu saja. Naskahnya diulang-ulang. Dan penontonnya dipaksa tepuk tangan.
Saya masih ingat betul.Pada saat kami menolak usulan Dana Abadi Daerah, kalian bungkam.
Tidak ada rapat darurat. Tidak ada konferensi pers. Tidak ada satu kalimat pun pembelaan.
Seribu bahasa kalian simpan rapat-rapat.
Dan saya catat itu sebagai ACC.
ACC dari barisan “tukang cebok”. Tugasnya bukan berpikir, tapi mengangguk.
Bukan mengoreksi, tapi mengamini. Karena yang penting aman, yang penting dapat bagian.
Lalu waktu berjalan.
Ketika kami yang turun tangan, mengundang ahli, menyusun kajian, dan memberi solusi konkret,
panggung itu berubah. Tiba-tiba mikrofon dinyalakan. Tiba-tiba kalian kompak teriak: *TOLAK!!!*
Aneh? Tidak. Ini pola.
Suara paling kencang justru keluar saat ada jalan keluar.
Karena solusi berarti transparansi. Dan transparansi berarti mati kutu bagi mereka yang hidup dari gelap.
Mungkin memang begitu.
Tidak diajak duduk, jadi tolak.
Tidak dapat jatah proyek, jadi ribut.
Tidak dapat amplop, jadi moralis dadakan.
Ini bukan lagi soal setuju atau tidak setuju terhadap substansi.
Ini soal logika yang sudah runtuh sejak lama.
Dulu diam karena nyaman dengan status quo. Karena status quo menguntungkan.
Sekarang berisik karena takut kehilangan zona nyaman. Karena zona nyaman itu mulai dibongkar.
Yang lebih memprihatinkan adalah para pejabat.
Mereka yang dulu berjanji di atas mimbar: “Akan profesional. Akan melayani rakyat.”
Kini janji itu mereka makan sendiri. Berkhianat.
Mereka menggabungkan para “cecunguk” menjadi satu barisan pecundang.
Saling melindungi. Saling menutupi aib. Saling membangun tembok untuk menjaga sistem pola lama tetap berdiri.
Sistem pola lama itu sederhana: Bagi-bagi, Tutup mulut, Ulangi.
Tidak ada evaluasi. Tidak ada kritik. Yang ada hanya loyalitas buta.
Dan hari ini, tembok itu runtuh menimpa pembangunnya sendiri.
Dan kini… kalian merasakan sendiri.
*Terpasung oleh sistem yang kalian bangun bersama para pecundang itu.*
Jeratan yang dulu kalian pasang untuk membungkam orang,
sekarang melilit leher kalian sendiri.
Rakyat hanya bisa melihat sambil menggeleng.
Melihat bagaimana mereka yang dulu ACC tanpa nalar,
kini menolak solusi karena nalar itu akhirnya datang dan mengganggu pesta.
Cukup sudah.
Jika memang benar cinta daerah, buktikan dengan kerja.
Bukan dengan gimmick penolakan. Bukan dengan narasi kebencian.
Tapi dengan duduk satu meja. Bedah datanya. Uji argumennya. Benahi yang salah.
Demokrasi bukan soal siapa paling keras teriak.
Demokrasi adalah soal siapa paling berani bertanggung jawab.
Karena sejarah tidak pelupa.
Sejarah akan mencatat dengan tinta paling tebal:
Siapa yang bungkam saat rakyat butuh suara,
dan siapa yang berisik saat rakyat butuh solusi.
Dan kami akan terus mencatat.
Sampai logika kembali menjadi panglima.
Sampai kata “TOLAK” tidak lagi jadi tameng untuk menutup kebusukan.
(Redho)




















