10 Agustus 2026. DPRD SIDOARJO
10 Agustus 2026. DPRD SIDOARJO
Banner Cukai Rokok Ilegal
Banner Cukai Rokok Ilegal
OpiniSidoarjo

HUTAN TERBAKAR, MASA DEPAN INDONESIA IKUT TERBAKAR

×

HUTAN TERBAKAR, MASA DEPAN INDONESIA IKUT TERBAKAR

Sebarkan artikel ini
Foto : Prof. Dr. Ir. H. Abdul Hamid, M.P. Pakar Kebijakan Publik Bidang Kehutanan, Lingkungan dan Pertanian
Foto : Prof. Dr. Ir. H. Abdul Hamid, M.P. Pakar Kebijakan Publik Bidang Kehutanan, Lingkungan dan Pertanian

Karhutla Bukan Sekadar Api dan Asap, tetapi Ancaman Seratus Tahun bagi Generasi Mendatang

Oleh: Prof. Dr. Ir. H. Abdul Hamid, M.P.
Pakar Kebijakan Publik Bidang Kehutanan, Lingkungan dan Pertanian

Ada sebuah kenyataan yang sering kita lupakan: api dapat dipadamkan dalam hitungan jam atau hari, tetapi hutan yang rusak mungkin membutuhkan puluhan bahkan hingga seratus tahun untuk pulih.

Karena itu, ketika kita melihat berita kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai daerah Indonesia, jangan hanya melihatnya sebagai berita tentang api, asap dan hektare lahan yang terbakar.

Kita harus melihatnya sebagai alarm keras tentang masa depan lingkungan Indonesia.

Pemberitaan Tirto.id yang mengangkat pandangan sejumlah profesor dan pakar tentang pemulihan hutan pascakarhutla yang dapat membutuhkan waktu hingga 100 tahun seharusnya menjadi momentum untuk mengubah cara pandang kita.

Karhutla bukan sekadar pohon yang terbakar

Ketika hutan terbakar, yang hilang bukan hanya batang dan daun.

Kita kehilangan habitat satwa, keanekaragaman hayati, kesuburan tanah, kemampuan hutan menyimpan air, fungsi perlindungan daerah aliran sungai, serta kemampuan ekosistem menyerap karbon.

Masyarakat pun ikut menanggung akibatnya.

Asap mengganggu kesehatan. Aktivitas sekolah dan ekonomi dapat terganggu. Pertanian terkena dampak. Pariwisata menurun. Bahkan dalam skala besar, karhutla dapat memberikan tekanan ekonomi dan sosial yang jauh lebih mahal daripada biaya pemadamannya.

Karena itu, karhutla harus dipandang sebagai krisis ekologis sekaligus krisis kebijakan publik.

Indonesia tidak boleh hanya sibuk setelah api membesar

Paradigma penanganan karhutla harus kita ubah.

Selama ini perhatian terbesar sering muncul ketika api sudah membesar: mengerahkan personel, mobil pemadam, helikopter, water bombing, dan berbagai peralatan lainnya.

Semua itu penting.

Tetapi jauh lebih penting adalah mencegah api sebelum menjadi bencana besar.

Data pemerintah menunjukkan bahwa hingga Juli 2026 luas karhutla di Indonesia telah mencapai sekitar 202.004 hektare. Angka sebesar itu seharusnya membuat kita bertanya: apakah sistem pencegahan dan deteksi dini kita sudah cukup kuat?

Jawabannya menurut saya: belum.

Kita membutuhkan sistem yang mampu mendeteksi titik api sejak dini, memetakan arah penyebaran api, mengetahui kondisi vegetasi, memprediksi wilayah berisiko tinggi dan mengirimkan informasi secara cepat kepada petugas di lapangan.

Di sinilah teknologi menjadi penting.

Jawa Timur jangan merasa aman

Karhutla bukan hanya persoalan Sumatera dan Kalimantan.

Jawa Timur pun menghadapi ancaman serius.

Kebakaran di kawasan Gunung Bromo dan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru pada Agustus 2026 menjadi pengingat bahwa kawasan pegunungan dan hutan Jawa Timur sangat rentan terhadap kebakaran, terutama pada musim kemarau.

Medan terjal, angin, vegetasi kering dan sulitnya akses menuju titik api membuat pemadaman menjadi tidak mudah.

Dan kita tidak boleh lupa: hutan-hutan pegunungan Jawa Timur memiliki fungsi yang sangat penting bagi tata air, pertanian, keanekaragaman hayati, pariwisata dan kehidupan masyarakat di wilayah hilir.

Ketika kawasan hulu rusak, masyarakat di hilir pada akhirnya juga dapat merasakan dampaknya.

Jawa Timur sebenarnya sudah mulai menyiapkan masa depan

Di tengah ancaman tersebut, ada sebuah langkah yang menurut saya patut diapresiasi.

Sekitar awal 2026, Pemerintah Provinsi Jawa Timur membuka kerja sama dengan CIS Jepang, BRIN dan perguruan tinggi dalam pengembangan pemanfaatan drone untuk mitigasi bencana.

Pengembangan teknologi ini sangat relevan dengan kebutuhan Jawa Timur, termasuk kawasan hutan dan pegunungan seperti Tahura Raden Soerjo.

Bayangkan jika teknologi drone tidak hanya digunakan untuk melihat hutan dari udara, tetapi mampu menjadi bagian dari sistem deteksi dini, pemetaan titik panas, pemantauan pergerakan api hingga membantu pemadaman pada lokasi yang sulit dijangkau manusia.

Dalam penanganan karhutla Bromo pada Agustus 2026, BPBD Jawa Timur bahkan telah menggunakan drone water spray berkapasitas 150 liter untuk membantu pemadaman di medan yang sulit dijangkau.

Ini bukan sekadar persoalan teknologi.

Ini adalah perubahan paradigma dalam penanggulangan bencana.

Ke depan, kemampuan drone dapat dikembangkan dengan kapasitas angkut air yang semakin besar, kamera termal, sensor, sistem navigasi dan kecerdasan buatan.

Dengan demikian, drone bukan hanya menjadi “alat pemadam”, tetapi menjadi bagian dari sistem manajemen karhutla dari hulu sampai hilir.

Dari memadamkan api menjadi mencegah api

Menurut saya, ada lima kebijakan yang harus diperkuat.

Pertama, membangun sistem deteksi dini karhutla berbasis satelit, drone, sensor dan kecerdasan buatan.

Kedua, memperkuat patroli masyarakat di kawasan rawan kebakaran, terutama menjelang dan selama musim kemarau.

Ketiga, menjadikan masyarakat sekitar hutan sebagai mitra utama penjaga hutan, bukan sekadar objek pengawasan.

Keempat, memberikan insentif ekonomi kepada masyarakat yang mampu menjaga kawasan hutan tetap hidup dan bebas kebakaran.

Kelima, melakukan restorasi pascakebakaran secara ekologis, bukan sekadar menanam pohon sebanyak-banyaknya.

Sebab menanam pohon belum tentu sama dengan memulihkan hutan.

Hutan adalah sebuah ekosistem. Ada tanah, air, mikroorganisme, tumbuhan, satwa dan hubungan ekologis yang membutuhkan waktu panjang untuk kembali.

Jangan wariskan abu kepada anak cucu

Kita sering menghitung biaya memadamkan kebakaran.

Tetapi kita harus mulai menghitung sesuatu yang jauh lebih besar: berapa nilai kehidupan yang hilang ketika hutan terbakar?

Berapa nilai air yang hilang?

Berapa nilai karbon yang dilepaskan?

Berapa nilai keanekaragaman hayati yang musnah?

Berapa biaya kesehatan masyarakat akibat asap?

Berapa lama petani dan masyarakat sekitar harus menanggung dampaknya?

Dan yang paling penting:

Berapa lama anak cucu kita harus menunggu sampai hutan itu kembali seperti semula?

Inilah alasan mengapa karhutla tidak boleh diperlakukan sebagai bencana tahunan yang kemudian dilupakan setelah hujan turun.

Kita membutuhkan keberanian untuk mengubah kebijakan:

dari respons menjadi pencegahan,
dari pemadaman menjadi mitigasi,
dari eksploitasi menjadi restorasi,
dan dari sekadar menghitung hektare terbakar menjadi menghitung masa depan yang hilang.

Indonesia memiliki teknologi.

Indonesia memiliki para ahli.

Indonesia memiliki BRIN, BRIDA, perguruan tinggi, pemerintah daerah dan masyarakat yang dapat bergerak bersama.

Yang kita perlukan sekarang adalah kemauan politik dan kebijakan yang konsisten untuk menggunakan seluruh kekuatan tersebut sebelum api membesar.

Karena sesungguhnya, ketika satu kawasan hutan terbakar, yang terbakar bukan hanya pohon.

Yang terbakar adalah cadangan air kita.
Yang terbakar adalah keanekaragaman hayati kita.
Yang terbakar adalah karbon kita.
Yang terbakar adalah ekonomi masyarakat.
Dan pada akhirnya, yang ikut terbakar adalah masa depan Indonesia.

Api mungkin padam hari ini.

Tetapi luka ekologisnya bisa berlangsung puluhan tahun.

Bahkan mungkin seratus tahun.

Maka pertanyaannya bukan lagi:

“Bagaimana memadamkan api?”

Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:

“Apakah kita mau mencegah hutan Indonesia terbakar sebelum generasi berikutnya hanya mengenalnya dari foto?”

 

Penulis :
Prof. Dr. Ir. H. Abdul Hamid, M.P.
Pakar Kebijakan Publik Bidang Kehutanan, Lingkungan dan Pertanian

(AHF)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *