Republiknews.com – Ada satu adagium lama dalam dunia jurnalistik yang tampaknya tak pernah usang: “If it bleeds, it leads.” Jika berdarah, maka pantas diutamakan.
Begitu tampaknya kaidah tak tertulis yang kini makin menjelma menjadi kompas redaksi dan selera khalayak.
Berita positif? Ah, terlalu steril untuk dibaca. Tak mengandung letupan emosi, tak menggugah dendam kolektif, dan lebih fatal lagi—tak bisa dijadikan bahan caci-maki di kolom komentar.
Padahal di balik layar republik ini, saban hari ada banyak kisah baik yang tak sempat menjadi headline.
Program bantuan pangan tiba tepat waktu, jembatan penghubung desa selesai dibangun sesuai anggaran, kader posyandu berjibaku menurunkan angka stunting—namun semua itu tenggelam seperti surat cinta yang tak sempat dibuka.
Mengharukan, tapi tidak menguntungkan secara algoritmik.
Sebaliknya, ketika sebuah proyek molor sehari, atau seorang pejabat tergelincir ucap, media sosial seketika menjelma menjadi meja hijau virtual.
Semua jadi ahli hukum, pakar audit, dan tak sedikit pula yang mendadak menjadi nabi kehancuran nasional. Ironisnya, yang menyulut ramai seringkali bukan substansi masalah, melainkan daya ledak emosi yang dikandungnya.
Inilah realitas kontemporer: berita baik kekurangan penonton, berita buruk kelebihan tepuk tangan.
Seolah-olah negeri ini lebih butuh amarah ketimbang harapan. Lebih suka mencaci kegagalan kecil daripada mengakui keberhasilan besar.
Apresiasi dianggap basa-basi, kritik dibungkus sebagai bentuk cinta—meski kerap tanpa empati dan narasi.
Barangkali kita memang sedang menjalani era di mana sinisme dianggap tanda kecerdasan, dan pujian dianggap lemah.
Di mana wartawan yang menulis keberhasilan akan dicurigai sebagai “pesanan”, sementara yang mengumbar cacat malah dielu-elukan sebagai pahlawan kejujuran.
Sungguh ironi, ketika kejujuran itu sendiri tak lagi diukur dari integritas, melainkan dari keberanian menyebar kecurigaan.
Namun kita tak bisa semata menyalahkan media. Sebab media hanyalah cermin: ia memantulkan wajah publik.
Jika yang dicari adalah kontroversi, maka itulah yang akan disajikan. Jika apresiasi dianggap membosankan, maka kabar baik pun akan disingkirkan pelan-pelan, seperti tamu tak diundang dalam pesta demokrasi informasi.
Maka pertanyaannya bukan lagi mengapa media suka menulis yang negatif, tapi: mengapa kita lebih suka membacanya? Dan lebih dalam lagi, mengapa kita begitu menikmati melihat sesuatu gagal?
Jika bangsa ini ingin tumbuh, maka kita perlu lebih dari sekadar keberanian mengkritik. Kita juga perlu kematangan untuk menghargai.
Karena negeri yang besar bukanlah yang paling vokal mencela, melainkan yang mampu mengakui keberhasilan tanpa kehilangan nalar.
Mari, barangkali sudah saatnya kita belajar mencintai kabar baik. Meskipun ia tidak gaduh, tak membuat viral, dan jarang menjadi trending.
Tapi justru di sanalah, masa depan bersembunyi.
(Roy)



















