Example floating
Example floating
Opini

Rentenir Berkedok Koperasi

×

Rentenir Berkedok Koperasi

Sebarkan artikel ini

RepublikNews.com – Di banyak kampung, kehadiran mereka sudah seperti jadwal tetap.

Datang dengan sepeda motor, membawa buku kecil, senyum ramah, dan kalimat yang selalu terdengar menenangkan:

“Butuh uang? Bisa dibantu.” Masyarakat mengenalnya dengan sebutan sederhana: bank keliling.

Sekilas terlihat seperti penolong di saat orang sedang butuh. Prosesnya cepat, syaratnya ringan, tidak perlu jaminan, tidak perlu antre. Uang bisa langsung dibawa pulang.

Tapi justru di situlah kecepatan itu terasa agak mencurigakan. Karena sering kali, uangnya belum sempat benar-benar dipakai, penagihannya sudah mulai datang.

Hari ini pinjam, besok sudah ditanya cicilan. Kadang belum juga sempat uang itu “dimakan” oleh kebutuhan rumah tangga, petugasnya sudah datang lagi dengan buku catatan di tangan.

Disiplin sekali. Bahkan mungkin lebih disiplin daripada sebagian lembaga keuangan resmi.

Yang menarik, sekarang sebagian dari praktik ini tidak lagi sekadar memakai nama bank keliling.

Ada yang mulai menggunakan nama yang terdengar lebih terhormat: koperasi. Kedengarannya mulia, seolah membawa semangat gotong royong ekonomi rakyat.

Padahal kalau dilihat dari cara kerjanya, masyarakat kadang merasa seperti sedang berhadapan dengan rentenir yang hanya mengganti papan nama.

Dalam koperasi yang sebenarnya, anggota adalah pemilik. Ada rapat anggota, ada laporan keuangan, ada keputusan bersama. Tapi dalam praktik bank keliling yang berseragam koperasi ini, anggota sering hanya muncul di atas kertas.

Namanya tercatat, tapi suaranya tidak pernah terdengar.
Yang benar-benar terdengar hanya satu: jadwal cicilan.

Sistemnya memang cerdas. Cicilan dibuat kecil, dibayar harian atau mingguan, sehingga terasa ringan. Tapi kalau dihitung dengan jujur, jumlah yang kembali sering jauh lebih besar dari uang yang dipinjam.

Namun karena dibayar sedikit demi sedikit, banyak orang tidak sempat berhenti untuk benar-benar menghitung.

Barangkali inilah bentuk modern dari praktik lama: rentenir yang semakin pintar menyesuaikan diri dengan zaman. Tidak lagi duduk di warung kopi menunggu orang datang meminjam, tapi berkeliling kampung mencari nasabah yang sedang butuh.

Yang jadi persoalan bukan hanya bunganya. Yang lebih berbahaya adalah ketika praktik seperti ini perlahan merusak makna koperasi itu sendiri.Nama yang dulu dibangun untuk melindungi rakyat kecil, justru dipakai untuk membungkus praktik yang membuat rakyat kecil semakin sulit bernapas.

Pada akhirnya masyarakat tidak terlalu peduli dengan nama lembaganya. Mau disebut koperasi, bank keliling, atau apa pun. Yang mereka rasakan hanya satu hal sederhana: apakah pinjaman itu benar-benar menolong, atau justru membuat hidup semakin berat.

Karena kalau uang baru sehari di tangan tapi tagihan sudah datang lebih dulu, rasanya sulit menyebut itu sebagai pertolongan. Lebih mirip pengingat bahwa utang, sekecil apa pun, selalu datang dengan bayangan yang panjang.
(Budi AF)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *