Example floating
Example floating
1 Mei 2026
Opini

Masjid rumah Allah dan Puasa yang menjaga kebersihanNya

×

Masjid rumah Allah dan Puasa yang menjaga kebersihanNya

Sebarkan artikel ini

Republiknews.com,Surabaya. Senin,(2/3/2026). Setiap Ramadhan, masjid-masjid kita hidup. Saf salat memanjang, lantunan Al-Qur’an menggema, sedekah meningkat, dan wajah-wajah penuh harap memenuhi ruang ibadah.

Namun ada satu fenomena kecil yang sering luput dari perhatian: selepas kegiatan, karpet berserakan, gelas plastik tertinggal, botol air tergeletak, dan sebagian jamaah berlalu tanpa merasa perlu menoleh ke belakang.

Pemandangan ini mungkin tampak sepele. Namun sesungguhnya ia menyimpan pesan besar tentang kualitas spiritual kita.

Islam tidak pernah memisahkan antara lahir dan batin. Ibadah bukan sekadar ritual formal yang menggugurkan kewajiban hukum, melainkan proses transformasi jiwa.

Ketika seseorang bersujud di hadapan Allah, sujud itu semestinya melahirkan sifat tawadhu (rendah hati) dan tanggung jawab moral. Jika seseorang khusyuk membaca ayat-ayat tentang keteraturan alam, tetapi tidak peduli pada ketidakteraturan di rumah Allah, ada jarak antara ritual dan makna.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya Allah itu Indah dan menyukai keindahan.” Hadis ini sering dikutip dalam konteks estetika, tetapi jarang direnungkan dalam konteks tanggung jawab sosial. Keindahan bukan hanya soal arsitektur megah atau kaligrafi indah, tetapi juga kebersihan, kerapian, dan kepedulian bersama.

Puasa yang baru saja kita lalui sesungguhnya adalah madrasah pengendalian diri. Kita menahan lapar dan dahaga bukan karena tidak mampu makan, tetapi karena taat. Kita mengendalikan emosi, menahan amarah, menahan ego. Tujuan akhirnya adalah takwa—kesadaran penuh akan kehadiran Allah dalam setiap tindakan.

Namun di titik inilah ujian sebenarnya. Apakah puasa hanya berhenti pada jam berbuka? Ataukah ia melahirkan kepekaan sosial yang berkelanjutan?

Ketika seseorang meninggalkan sampah di masjid dengan alasan “sudah ada petugas kebersihan,” ia sedang menunjukkan bahwa ego belum sepenuhnya tunduk. Puasa seharusnya mengajarkan bahwa kenyamanan pribadi tidak boleh dibangun di atas beban orang lain. Petugas kebersihan adalah saudara kita. Membiarkan mereka bekerja sendirian membersihkan jejak kelalaian kita bukanlah cerminan empati yang diajarkan Ramadhan.

Fenomena ini mencerminkan apa yang dapat disebut sebagai “kesalehan individual yang egois.” Seseorang merasa telah cukup dengan ibadah pribadi—salat, zikir, tilawah—tanpa merasa perlu memperluas dampaknya ke ruang sosial. Padahal masjid adalah ruang publik milik umat. Ia bukan ruang privat. Ia bukan milik takmir, bukan milik donatur, bukan milik petugas kebersihan. Ia milik bersama.

Rasa memiliki (sense of belonging) adalah fondasi peradaban. Dalam teori sosial, ruang publik yang terjaga adalah indikator kuatnya kohesi sosial. Ketika masyarakat merasa memiliki ruang bersama, mereka akan merawatnya tanpa diminta. Sebaliknya, ketika rasa memiliki melemah, tanggung jawab pun terfragmentasi.

Puasa seharusnya memperkuat rasa memiliki itu. Lapar yang dirasakan bersama membangun solidaritas. Tarawih yang dijalani bersama membangun kebersamaan. Sedekah yang diberikan bersama membangun empati. Jika setelah Ramadhan rasa kepemilikan terhadap rumah Allah masih lemah, maka ada pelajaran yang belum sepenuhnya terserap.

Para ulama sering menyebutkan bahwa tanda ibadah diterima adalah perubahan perilaku menjadi lebih baik setelah ibadah tersebut selesai. Jika seseorang rajin sujud tetapi tetap mudah menyakiti orang lain, maka sujud itu belum membentuk karakter. Jika seseorang khatam Al-Qur’an tetapi tidak tergerak menjaga kebersihan masjid, maka tilawah itu belum sepenuhnya meresap.

Masalah kebersihan masjid bukan sekadar persoalan teknis. Ia adalah indikator kualitas transformasi spiritual. Ia adalah cermin apakah ibadah kita berhasil melampaui gerakan fisik menuju perubahan akhlak.

Dalam konteks kebangsaan, hal kecil ini memiliki implikasi besar. Bangsa yang maju bukan hanya bangsa yang religius secara simbolik, tetapi bangsa yang bertanggung jawab terhadap ruang publiknya. Jika kita tidak terbiasa menjaga kebersihan masjid—ruang paling suci dalam kehidupan sosial umat—bagaimana kita berharap mampu menjaga fasilitas publik yang lebih luas?

Saling membantu dalam kebaikan adalah prinsip dasar dalam Al-Qur’an. Mengambil satu botol plastik yang tercecer mungkin tampak remeh, tetapi ia adalah simbol kepedulian. Ia adalah pernyataan bahwa kita tidak memisahkan ibadah dari tindakan. Ia adalah bukti bahwa cinta kepada Allah diwujudkan melalui penghormatan terhadap rumah-Nya.

Puasa mengajarkan kita untuk menundukkan ego. Ego berkata, “Bukan tugas saya.” Takwa berkata, “Saya bagian dari ini.” Ego mencari kenyamanan pribadi. Takwa mencari keberkahan bersama.

Maka refleksi kita sederhana namun mendalam: jangan biarkan Ramadhan berlalu tanpa meninggalkan jejak kepedulian. Jangan biarkan masjid yang bersih hanya bergantung pada segelintir orang. Jangan biarkan kesalehan kita berhenti pada sajadah.

Masjid yang bersih adalah simbol jiwa yang bersih. Masjid yang rapi adalah tanda umat yang beradab. Masjid yang terawat adalah bukti bahwa ibadah kita hidup, bukan sekadar rutinitas.

Pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukanlah seberapa sering kita datang ke masjid, tetapi seberapa besar cinta kita kepada rumah Allah itu. Cinta yang sejati selalu melahirkan tanggung jawab.

Karena ibadah yang berhasil bukanlah ibadah yang hanya menggugurkan kewajiban, tetapi ibadah yang menjadikan pelakunya rahmat bagi sekelilingnya—termasuk bagi kebersihan dan kerapian masjid itu sendiri.

Ke masjid hati penuh harap,
Langkah ringan menuju cahaya.
Jika rumah Allah tak kita tatap,
Bagaimana cinta tumbuh dalam jiwa?

 

Penulis:
Prof. Dr. Abdul Hamid
Peneliti BRIN/BRIDA Jawa Timur

 

(AHF)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *