1 Mei 2026
Opini

Kepala BGN: Dari Ruang Kehormatan Ke ruang Tahanan

×

Kepala BGN: Dari Ruang Kehormatan Ke ruang Tahanan

Sebarkan artikel ini

RepublikNews.com
Siang itu semuanya tampak normal.

Kamera menyala. Kunjungan kerja presiden berlangsung. Program Makan Bergizi Gratis berjalan seperti biasa. Tidak ada wajah panik. Tidak ada tanda-tanda bahwa hitungan mundur sedang dimulai.

Namun hukum sering bergerak tanpa suara.
Malam harinya jabatan dicopot presiden.
Paginya kantor digeledah penyidik kejagung.
Sorenya status tersangka diumumkan.

Hanya dalam hitungan jam, jarak antara ruang kehormatan dan ruang tahanan ternyata tidak sejauh yang dibayangkan banyak orang.

Kisah ini seharusnya membuat seluruh pihak yang terlibat dalam pengelolaan anggaran negara berhenti sejenak.

Bukan untuk melihat siapa yang jatuh, tetapi untuk bertanya kepada diri sendiri.

Jika hari ini penyidik datang, dokumen apa yang paling ingin disembunyikan?

Jika hari ini telepon disita, percakapan mana yang paling membuat gelisah?

Jika hari ini rekening diperiksa, transaksi mana yang paling sulit dijelaskan?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak membutuhkan jawaban di depan publik, cukup dijawab di depan cermin. Sebab banyak persoalan besar tidak dimulai dari miliaran rupiah.

Mereka dimulai dari pembenaran kecil.
“Semua orang juga begitu.”
“Ini cuma formalitas.”
“Nanti beres belakangan.”
“Tidak akan ada yang memeriksa.”

Kalimat-kalimat itulah yang sering menjadi batu pertama menuju masalah yang lebih besar.

Hari ini mungkin masih ada yang merasa aman karena memiliki relasi dan koneksi.

Masih ada yang merasa aman karena memiliki pangkat dan jabatan.

Masih ada yang merasa aman karena namanya belum disebut.

Padahal sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa penyidik tidak bekerja berdasarkan perasaan aman seseorang.

Mereka bekerja berdasarkan jejak.
Jejak tanda tangan.
Jejak transfer.
Jejak komunikasi.
Jejak keputusan.
Dan jejak itu biasanya jauh lebih jujur daripada pidato yang berapi api.

Karena itu, bagi pengelola yayasan, pemilik dapur, kepala SPPG, maupun pihak lain yang terlibat dalam pelaksanaan program negara, ada satu kenyataan yang patut diingat.

Jabatan bisa hilang.
Pengaruh bisa hilang.
Kawan bisa menjauh.

Tetapi dokumen tidak bisa lupa.
Sistem tidak bisa lupa.
Rekening tidak bisa lupa.
Dan waktu tidak selalu menghapus jejak.

Mungkin saat ini semuanya masih terlihat tenang.

Namun banyak orang yang akhirnya berhadapan dengan hukum juga pernah berpikir hal yang sama.

Mereka mengira masih punya waktu.
Sampai suatu hari terdengar ketukan di pintu.
Dan sejak saat itu, hidup mereka tidak pernah sama lagi.
*(Budi Ap)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *