Republiknews.com – Ada yang terasa janggal dari Jambore Nasional Pramuka tahun ini.
Bukan karena kemahnya. Bukan karena anak-anak Pramuka berkegiatan di alam terbuka.
Bukan pula karena mereka diajak berkreasi, berinovasi, terampil dan mandiri.
Yang mengundang pertanyaan justru temanya:
“Berkreasi, Berinovasi, Terampil dan Mandiri untuk Mendukung Swasembada Pangan.”
Membacanya sekilas, kita mungkin bertanya: ini tema Jambore Pramuka atau tema Hari Pangan?
Swasembada pangan tentu bukan sesuatu yang buruk. Bahkan sangat penting.
Anak-anak Pramuka juga perlu mengenal pertanian, lingkungan, ketahanan pangan dan kemandirian.
Tetapi bukankah ada banyak cara untuk mengajarkan itu tanpa menjadikan “swasembada pangan” sebagai tujuan besar sebuah Jambore Nasional?
Sebab Jambore bukan rapat kabinet.
Jambore bukan forum kementerian pertanian.
Dan anak-anak Pramuka bukan peserta seminar kebijakan pangan.
Mereka adalah anak-anak muda yang sedang belajar menjadi manusia yang mandiri, disiplin, berani, terampil, mampu bekerja sama dan bertanggung jawab.
Mereka datang membawa seragam, tongkat, tenda dan semangat persaudaraan.
Bukan membawa proposal ketahanan pangan.
Ironisnya, ketika kegiatan yang seharusnya sangat dekat dengan dunia anak muda justru dibungkus dengan bahasa program pembangunan, kita seperti sedang berlomba memasukkan semua agenda nasional ke dalam satu kegiatan.
Hari ini swasembada pangan.
Besok mungkin ketahanan energi.
Lusa bisa saja transformasi digital.
Tidak ada yang salah dengan semua agenda itu. Tetapi kalau semuanya dimasukkan ke dalam tema Pramuka, pertanyaannya kemudian sederhana:
Lalu di mana Pramukanya?
Pramuka tentu harus mengikuti perkembangan zaman. Tetapi mengikuti zaman tidak berarti harus selalu memakai jargon pembangunan yang sedang populer.
Justru Pramuka memiliki sesuatu yang jauh lebih penting daripada jargon: karakter.
Anak yang mampu mendirikan tenda ketika hujan, bekerja sama dengan teman yang berbeda daerah, menyelesaikan persoalan tanpa mengeluh, hidup sederhana, memimpin kelompok dan bertanggung jawab atas tugasnya—bukankah itu juga bentuk kemandirian?
Dan bukankah karakter seperti itu yang nantinya dibutuhkan untuk membangun Indonesia?
Kalau ingin mengajarkan swasembada pangan, ajak mereka menanam.
Ajak mereka mengenal tanah.
Ajak mereka belajar mengolah hasil pertanian.
Ajak mereka memahami bagaimana makanan sampai ke meja makan.
Itu jauh lebih Pramuka daripada sekadar menempelkan istilah “swasembada pangan” pada tema besar Jambore.
Sebab anak-anak tidak membutuhkan terlalu banyak jargon.
Mereka membutuhkan pengalaman.
Mereka membutuhkan keteladanan.
Dan mereka membutuhkan ruang untuk tumbuh.
Jangan sampai kita terlalu sibuk membuat Pramuka mendukung berbagai program pembangunan, sampai lupa bahwa tugas utama Pramuka adalah membentuk manusia yang kelak mampu menjalankan pembangunan itu.
Mungkin sudah waktunya kita berhenti sejenak dan bertanya:
Apakah tema Jambore harus mengikuti agenda pembangunan, atau agenda pembangunan yang seharusnya ditanamkan melalui semangat dan karakter Pramuka?
Karena kalau setiap kegiatan kepemudaan harus diberi jargon program nasional, jangan-jangan suatu hari nanti kita benar-benar perlu bertanya:
Ini Jambore Pramuka, atau rapat program pemerintah yang kebetulan pesertanya tidur di tenda?
“(Budi AF)




















