Ada kalimat yang sangat mulia:
“Hanya Allah yang tahu.”
Kalimat ini seharusnya lahir dari kerendahan hati. Dari kesadaran bahwa manusia memang terbatas.
Tapi hari ini, kalimat itu mulai terasa berbeda.
Ia tidak lagi selalu keluar dari kejujuran.
Kadang… justru muncul saat seseorang tidak ingin menjelaskan.
Ketika ada pertanyaan yang sederhana—bukan soal langit, bukan soal takdir—
tapi soal yang sangat duniawi:
tentang bangunan, tentang pengelolaan, tentang tanggung jawab…
Jawaban yang muncul justru:
“Hanya Allah yang tahu.”
Kalau memang itu perkara yang tidak bisa dijelaskan manusia, mungkin wajar.
Tapi ini bukan soal yang tersembunyi.
Bangunan itu ada.
Prosesnya terlihat.
Waktunya bahkan bisa dihitung.
Lalu kenapa jawabannya harus setinggi langit…
untuk menutup sesuatu yang terjadi di atas tanah?
Di titik ini, orang mulai bertanya dalam diam:
Apakah ini bentuk iman…
atau cara paling aman untuk menghindar?
Karena jujur saja,
kalimat seperti ini terlalu sering muncul…
justru saat kejujuran sedang dibutuhkan.
Lebih aneh lagi,
ketika hal-hal yang seharusnya bisa dijelaskan dengan angka, data, dan bukti—
tiba-tiba dipindahkan ke wilayah yang tidak bisa disentuh siapa pun.
Seolah-olah:
kalau sudah dibawa ke “Allah yang tahu”…
maka semua pertanyaan harus berhenti.
Padahal tidak seperti itu.
Dalam urusan dunia, apalagi yang menyangkut kepentingan banyak orang,
manusia tetap punya kewajiban untuk menjelaskan.
Karena yang dipertanyakan bukan keyakinan.
Tapi tanggung jawab.
Kalimat “hanya Allah yang tahu” memang tidak bisa dibantah.
Tapi justru di situlah masalahnya.
Karena ketika kalimat yang tidak bisa dibantah digunakan untuk menutup sesuatu yang seharusnya bisa dijelaskan…
maka yang terjadi bukan ketenangan.
Melainkan kecurigaan yang dipaksa diam.
Dan yang lebih berbahaya lagi…
Ketika kalimat suci mulai dipakai sebagai tameng,
maka yang rusak bukan hanya kepercayaan manusia—
tapi juga makna dari kalimat itu sendiri.
Karena pada akhirnya, orang tidak lagi bertanya:
“Apakah ini benar?”
Tapi mulai bergeser menjadi:
“Kenapa harus bersembunyi di balik kalimat itu?”
Kalau memang tidak ada yang salah,
seharusnya tidak perlu berlindung.
Karena kejujuran tidak pernah butuh tempat sembunyi.
Dan tanggung jawab…
tidak pernah selesai dengan satu kalimat:
“Hanya Allah yang tahu.”
(Budi AF)



















