Example floating
Example floating
1 Mei 2026
OpiniPendidikan

“Guru Hebat, Indonesia Kuat” —Tema Besar yang Tidak Berani Menyentuh Dompet Guru Honorer

×

“Guru Hebat, Indonesia Kuat” —Tema Besar yang Tidak Berani Menyentuh Dompet Guru Honorer

Sebarkan artikel ini

Sukabumi – Republiknews.com – Selamat datang di perayaan tahunan yang paling penuh harapan dan paling penuh ironi, Hari Guru Nasional.

Tahun ini Dinas Pendidikan kembali menghadirkan tema megah,
“Guru Hebat, Indonesia Kuat.”

Tema yang terdengar seperti tepuk tangan, tapi sayangnya tidak bisa ditukar menjadi gaji.

Mari kita sambut tema ini dengan senyum. Senyum yang sama yang selama ini dipakai guru honorer ketika menerima honor 600 ribu rupiah per bulan sambil diminta tetap semangat mendidik calon pemimpin bangsa.

Kita paham maksud tema ini,  bangunlah Indonesia yang kuat dengan guru yang hebat.

Masalahnya sederhana,
Bagaimana mau hebat kalau untuk beli pulsa saja harus nunggu honor cair?

Jika tema ini jujur, mungkin bunyinya akan berbeda:

“Guru Hebat, Indonesia Kuat… Kecuali Guru Honorer, Harap Tetap Kuat Menahan Nasib.”

Atau sedikit lebih jujur lagi,
“Guru Hebat, Sistemnya Lemah.”

Karena hebat saja tidak cukup ketika gaji tidak ikut naik kelas.

Di banyak sekolah, kita menyaksikan drama yang tidak pernah masuk dalam buku pelajaran:

Di meja sebelah kanan: Guru PNS membuka slip gaji bulanan.

Di sebelah kiri: Guru honorer membuka dompet untuk memeriksa apakah uang parkir cukup.

Yang satu mendapat tunjangan sertifikasi.

Yang satu mendapat “tunjangan” doa dari orang tua murid: “Semoga cepat diangkat ya, Bu.”

Yang satu merencanakan liburan sekolah.

Yang satu merencanakan apakah perlu puasa lebih sering untuk menghemat pengeluaran.

Tetapi keduanya dituntut sama: mengajar profesional, mengikuti pelatihan, memenuhi administrasi, dan mempersiapkan murid menghadapi dunia modern.

Kalau ini bukan satire, saya tidak tahu apa lagi yang bisa disebut satire.

Tidak ada yang lebih kreatif dari Dinas Pendidikan dalam mencari tema. Setiap tahun berganti-ganti, semakin puitis, semakin bergetar semangatnya.

Sayangnya, kreativitas itu tidak pernah ikut menyentuh regulasi, anggaran, atau keberanian merapikan kesenjangan.
Tema berubah setiap tahun.
Gaji guru honorer? Tetap.

Kalau semangat membuat tema bisa ditukar menjadi uang, mungkin guru honorer sudah hidup lebih layak.

Pejabat daerah berdiri di podium dengan suara bergetar, memuji guru sebagai pahlawan bangsa. Nada pidatonya lebih tinggi daripada nominal honor guru honorer.

Mereka bilang:
“Jasa guru tidak ternilai.”

Betul.
Karena benar-benar tidak dinilai, apalagi dihargai.

Pidato lima menit itu seolah cukup mengganti kebutuhan harian guru honorer sebulan penuh.
Tentu saja tidak. Tetapi selama tepuk tangan masih meriah, semuanya terlihat baik-baik saja.

Bedanya besar: angka rekening.

Guru honorer sering dinasihati agar bekerja dengan ikhlas, mengabdi tanpa pamrih, dan tetap semangat meski honor minim.

Hebat, ya?
Tuntutannya sama dengan guru PNS, tapi penghargaan mereka seperti dua planet berbeda.

Jika ada lomba paling sabar, guru honorer mungkin jadi juaranya.
Tapi sabar tidak membayar listrik, tidak mengisi BBM, dan tidak membeli buku untuk mengajar.

*Guru membentuk karakter bangsa.
*Guru membangun masa depan anak-anak.
*Guru adalah fondasi negeri.

Bagus.
Sekarang kita tanya:
Siapa yang membangun masa depan guru honorer?

Jawabannya sering kali sama:
Tidak ada.

Mereka sendiri yang harus membangun, menyusun, dan mempertahankan masa depan dengan penghasilan yang bahkan tidak cukup untuk kebutuhan dasar.

Jika “Guru Hebat, Indonesia Kuat” ingin punya makna, maka harus ada langkah yang benar-benar menyentuh masalah struktural:

Kesenjangan gaji harus dipersempit.
Honor guru harus layak.
Status guru harus jelas.

Pemerintah harus berhenti berpura-pura tidak tahu kondisi lapangan.

Anggaran pendidikan tidak boleh hanya kuat di laporan, tetapi lemah di kenyataan.

Pada akhirnya, ironi ini terlalu besar untuk terus ditutupi tema-tema puitis.
Jika guru honorer saja kesulitan bertahan hidup, logikanya sederhana:
Indonesia belum cukup kuat untuk membanggakan diri.

Karena bangsa tidak akan pernah lebih kuat dari mereka yang mengajar generasinya.

Indonesia ingin guru hebat?
Maka buatlah mereka hidup layak.
Bukan hanya diberi tema.

(Budi AF)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *