Example floating
Example floating
1 Mei 2026
Sukabumi

Tahun Baru Islam 1 Muharam 1477 H: Hijrah Sosial, Ketika Spirit Tertinggal di Balik Spanduk dan Anggaran

×

Tahun Baru Islam 1 Muharam 1477 H: Hijrah Sosial, Ketika Spirit Tertinggal di Balik Spanduk dan Anggaran

Sebarkan artikel ini

Sukabumi, republiknews.com, Tatkala kalender masehi berganti angka setiap 1 Januari, dentuman kembang api dan parade konser seakan menjadi ritual sakral global.

Namun saat 1 Muharam datang, hari di mana tonggak peradaban Islam bermula dari sebuah hijrah agung,yang terdengar hanya lantunan doa di masjid-masjid kecil dan spanduk bertuliskan

“Selamat Tahun Baru Islam” yang menggantung lesu di tiang listrik desa.

Sesungguhnya, tahun baru Hijriah bukan sekadar perayaan; ia adalah ajakan halus namun tegas untuk berhijrah,berpindah, berubah, dan memperbaiki.

Namun ironisnya, di tengah hiruk-pikuk seremoni yang digelar dengan dana serba ada, spirit perubahan itu justru sering tercecer entah di mana.

Kita pandai membuat acara, tapi gagap menanam nilai. Pandai mencetak baliho, tapi abai pada pencetakan karakter.

Hijrah hari ini tak lagi berbicara soal jarak geografis dari Mekkah ke Madinah. Ia menuntut perpindahan nilai: dari apatis menjadi partisipatif, dari mementingkan diri sendiri menuju kepekaan sosial.

Tapi pertanyaannya: sudah sejauh mana kita berhijrah?

Mari kita tengok desa-desa kita—yang katanya menjadi pusat pembangunan dari pinggiran.

Alih-alih menjadi episentrum perubahan sosial, tak sedikit pemerintah desa yang lebih fasih merancang proposal daripada memaknai kemanusiaan.

Mereka berhijrah, tentu saja—dari kantor ke ruang rapat, dari musyawarah ke meja anggaran.

Tapi apakah rakyat turut mereka bawa dalam perjalanan itu? Ataukah hanya angka-angka dalam laporan yang mereka kelola dengan tekun?

Begitu pula dengan institusi pendidikan kita. Sekolah yang katanya tempat mencetak generasi berkarakter, malah sering terjebak dalam logika administrasi dan target kuota.

Guru berhijrah dari papan tulis ke layar presentasi, dari idealisme ke rutinitas. Dan murid? Mereka berhijrah dari rasa ingin tahu menjadi sekadar mengejar nilai. Akhlak menjadi tema saat ujian PAI, bukan lagi cermin hidup sehari-hari.

Padahal, sabda Nabi Muhammad SAW sangat jelas:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Ahmad, Thabrani, dan Daruquthni)

Bukan yang paling rajin hadir di seminar. Bukan pula yang paling cepat menyerap dana kegiatan.

Tapi yang memberi manfaat—dengan hati, akal, dan keberanian moral.

Tahun Baru Islam semestinya menjadi momen muhasabah bukan hanya untuk individu, tapi juga bagi sistem yang kita hidupi.

Kita perlu bertanya: sudahkah birokrat kita menjadi pelayan rakyat atau justru mahir berdalih atas nama prosedur?

Sudahkah guru kita menanamkan karakter atau sekadar menyampaikan silabus?

Sudahkah masyarakat kita berhijrah dari ego sektoral menuju ukhuwah sosial?

Sayangnya, di negeri yang kaya akan seremoni ini, perubahan kerap berhenti pada baliho dan sambutan.

Maka tak heran bila yang hijrah hanyalah seragam panitia dan setting panggung, sementara mentalitas lama tetap duduk nyaman di kursi empuk.

Peringatan 1 Muharam 1477 H bukanlah agenda tahunan biasa. Ia adalah peringatan keras bagi yang masih betah dalam zona nyaman.

Momentum ini menuntut hijrah yang sejati—dari kelalaian menuju kesadaran, dari kepentingan sesaat menuju keberpihakan pada yang lemah.

Jika kita sungguh-sungguh ingin berubah, mari mulai hari ini—dari dalam diri, dari ruang kelas, dari balai desa.

Karena hijrah sejati tidak memerlukan seremoni besar—ia hanya butuh satu hal: kejujuran untuk mengakui bahwa kita belum benar-benar berubah.

(Budi.AF)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *