1 Mei 2026
Sukabumi

Merawat Iman, Menjaga Alam: Pesantren Ekologi Ramadhan PKBM Sinar Samudra

×

Merawat Iman, Menjaga Alam: Pesantren Ekologi Ramadhan PKBM Sinar Samudra

Sebarkan artikel ini

Sukabumi – republiknews.com – 1 Maret 2026 — Ramadhan senantiasa menghadirkan ruang kontemplasi yang luas bagi setiap insan untuk menata ulang relasi dirinya dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta.

Momentum suci ini menjadi sarana penyucian jiwa sekaligus penguatan komitmen moral dalam menjalani kehidupan yang lebih bermakna dan bertanggung jawab.

Dalam semangat tersebut, PKBM Sinar Samudra yang berlokasi di Jayanti, Desa Jayanti, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, menggelar Pesantren Kilat Ramadhan 1447 Hijriah dengan mengusung tema Pesantren Ekologi Ramadhan 2026.

Kegiatan ini menjadi ikhtiar pendidikan yang memadukan dimensi spiritualitas dengan kesadaran ekologis, sejalan dengan arah kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang mendorong penguatan nilai-nilai keagamaan berbasis kepedulian terhadap lingkungan hidup.

Lebih dari sekadar agenda rutin tahunan, pesantren ini dirancang sebagai ruang pembelajaran holistik yang menumbuhkan kesadaran keimanan dalam konteks tantangan kehidupan modern.

Peserta diajak memahami bahwa ibadah tidak berhenti pada ritual, tetapi harus bermuara pada sikap hidup yang bijak, adil, dan berkelanjutan.

Islam memandang kehidupan sebagai jalinan harmoni antara Hablum Minallah, Hablum Minannas, dan Hablum Minal Alam. Ketiga relasi ini membentuk kesatuan etis yang tidak terpisahkan.

Keimanan yang mendalam melahirkan kepedulian sosial, dan kepedulian sosial semestinya berujung pada tanggung jawab ekologis.Inilah spirit utama yang diinternalisasikan dalam seluruh rangkaian kegiatan Pesantren Ekologi Ramadhan 2026.

Dalam sambutannya, Kepala PKBM Sinar Samudra, Yusep Zaelani, SE, menegaskan bahwa pendidikan sejatinya merupakan proses pembentukan manusia seutuhnya, tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga penguatan karakter, kepekaan sosial, serta kesadaran ekologis.

Beliau menjelaskan bahwa di tengah krisis lingkungan global, perubahan iklim, serta degradasi nilai kemanusiaan, lembaga pendidikan dituntut menghadirkan model pembelajaran yang holistik, reflektif, dan transformatif.

Pesantren Ekologi Ramadhan dirancang sebagai ruang integrasi antara nilai spiritual dan kesadaran lingkungan guna menumbuhkan kesadaran kritis warga belajar akan perannya sebagai khalifah di muka bumi.

Menurutnya, keberagamaan yang autentik harus tercermin dalam perilaku nyata sehari-hari, seperti hidup sederhana, menjaga kebersihan, mengelola sampah secara bijak, serta berkomitmen merawat alam sebagai amanah Ilahi.

Dengan demikian, ibadah Ramadhan tidak berhenti pada dimensi ritual, tetapi bertransformasi menjadi energi sosial yang membangun peradaban dan memperkuat harmoni kehidupan.

Beliau juga menekankan pentingnya sinergi antara lembaga pendidikan, masyarakat, dan pemerintah daerah dalam membangun ekosistem pembelajaran yang berkelanjutan. Kolaborasi ini dinilai krusial untuk memastikan bahwa nilai-nilai keimanan dan kepedulian lingkungan tidak berhenti pada wacana, tetapi terimplementasi secara nyata di tengah masyarakat.

Rangkaian kegiatan diawali dengan Sholat Duha berjamaah sebagai simbol rasa syukur dan latihan disiplin spiritual. Ibadah ini membuka ruang keheningan batin, mempersiapkan jiwa peserta untuk menyerap nilai-nilai Ramadhan secara lebih mendalam.

Kegiatan dilanjutkan dengan Tawasul yang dipimpin oleh Ustadz Ade Surya, S.Pd, menghadirkan suasana khidmat dan penuh penghayatan.

Melalui lantunan doa dan munajat, peserta diajak menyadari keterbatasan diri di hadapan kebesaran Allah SWT sekaligus menautkan harapan akan kehidupan yang lebih baik dan bermakna.

Momentum reflektif ini diperkuat melalui Tadarus Al-Qur’an yang dipandu oleh Ibu Siti Nuraeni, S.Pd. Interaksi dengan ayat-ayat suci tidak hanya bertujuan menyempurnakan bacaan, tetapi juga menggali pesan-pesan moral yang relevan dengan kehidupan sosial dan tanggung jawab ekologis.

Dalam sesi ceramah, Ustadz Ade Surya menguraikan secara mendalam keterkaitan antara iman dan kepedulian lingkungan. Menurutnya, krisis ekologis yang dihadapi dunia saat ini berakar pada krisis etika manusia dalam memaknai posisinya sebagai khalifah di muka bumi.

Islam, lanjutnya, mengajarkan bahwa alam bukan sekadar objek eksploitasi, melainkan titipan yang harus dijaga keseimbangannya.

Oleh karena itu, praktik sederhana seperti menjaga kebersihan lingkungan, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menghemat air dan energi, serta membiasakan menanam pohon dipaparkan sebagai wujud konkret ibadah yang berdimensi sosial dan spiritual.

Dengan pendekatan ini, Ramadhan diharapkan menjadi momentum transformasi perilaku menuju gaya hidup yang lebih arif, sadar lingkungan, dan berkelanjutan.

Pesantren Ekologi Ramadhan 2026 diikuti oleh seluruh warga belajar Paket B dan C, serta para tutor PKBM Sinar Samudra. Interaksi yang terbangun dalam suasana kebersamaan melahirkan iklim edukatif yang hangat, dialogis, dan inklusif.

Kegiatan ini tidak hanya memperkuat dimensi spiritual, tetapi juga membangun solidaritas sosial dan kesadaran kolektif. Partisipasi aktif peserta mencerminkan tingginya semangat belajar dan beribadah, sekaligus menunjukkan bahwa pendidikan nonformal memiliki daya transformasi yang signifikan dalam membentuk karakter dan kesadaran sosial masyarakat.

PKBM Sinar Samudra meneguhkan komitmennya untuk terus melahirkan generasi pembelajar yang berakar kuat pada nilai keimanan, berpikir kritis, serta memiliki kepekaan sosial dan ekologis.

Keseimbangan antara iman, ilmu, dan amal diposisikan sebagai fondasi utama dalam menghadapi kompleksitas tantangan zaman.

Kegiatan ini juga menjadi wujud nyata sinergi antara lembaga pendidikan masyarakat dan kebijakan pemerintah daerah dalam membangun peradaban yang berkelanjutan.

Dengan konsistensi penyelenggaraan program yang sarat nilai, PKBM Sinar Samudra terus bergerak sebagai ruang pembelajaran yang hidup, reflektif, dan visioner.

Pada akhirnya, Pesantren Ekologi Ramadhan 2026 bukan sekadar rangkaian agenda seremonial, melainkan proses pembentukan kesadaran.

Dari heningnya sholat, khusyuknya doa, lantunan ayat-ayat suci, hingga refleksi ekologis, seluruhnya merajut satu pesan utama:
bahwa iman sejati selalu menemukan jalannya dalam kepedulian, tanggung jawab, dan keberpihakan pada keberlangsungan kehidupan.@yz_Mart_2026
(Budi AF)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *