Example floating
Example floating
1 Mei 2026
PeristiwaSukabumi

Hari Keluarga Nasional: Yang Tak Dirayakan, Padahal Jadi Akar Segalanya

×

Hari Keluarga Nasional: Yang Tak Dirayakan, Padahal Jadi Akar Segalanya

Sebarkan artikel ini

Republiknews.com — Hari Keluarga Nasional, 29 Juni. Ya, memang banyak yang tidak tahu. Bahkan mungkin Anda baru dengar hari ini.

Jangan merasa bersalah, ini memang hari penting yang diperlakukan tidak penting.

Tidak ada spanduk, tidak ada lomba, tidak ada potongan harga. Jangankan dirayakan, disebut pun jarang.

Padahal, ini hari yang sangat mendasar. Keluarga adalah tempat pertama dan utama pembentukan karakter manusia.

Tapi anehnya, kita lebih sibuk menyalahkan sekolah saat anak-anak kita tidak berperilaku seperti yang kita harapkan.

Setiap kali ada tawuran pelajar, kasus bullying, atau remaja viral karena kelakuan nyeleneh, yang pertama ditanya

“Guru ngajar apa sih di sekolah?”

Tapi hampir tak ada yang bertanya: “Apa yang diajarkan orang tuanya di rumah?”

Mari kita jujur, banyak dari kita telah mengalihdayakan pendidikan karakter ke sekolah.

Seolah guru punya tugas ganda: mengajar, mendidik, jadi psikolog, kadang jadi orang tua juga.

Padahal, tanggung jawab moral, akhlak, sopan santun, kejujuran, empati  semua itu seharusnya dibentuk di rumah, sejak dini, sejak belum bisa membaca.

Anak tidak belajar jujur dari buku pelajaran, tapi dari cara ayahnya menanggapi tagihan utang.

Anak tidak belajar empati dari kurikulum, tapi dari cara ibunya memperlakukan tetangganya.

Pendidikan karakter tidak hanya lahir dari ruang kelas, tapi dari ruang tamu. Dari meja makan. Dari pelukan, teguran, dan teladan.

Tapi kenyataannya, rumah makin sepi. Anak-anak diasuh oleh layar, dibesarkan oleh algoritma.

Orang tua kelelahan mengejar nafkah, lalu menyerahkan pendidikan ke sekolah, bimbingan belajar, atau bahkan ke sinetron dan YouTube.

Negara pun belum benar-benar hadir. Masih banyak orang tua harus kerja dua shift hanya untuk bisa beli beras dan susu. Waktu berkualitas bersama keluarga jadi barang mewah.

Tapi ketika anak-anak mulai kehilangan arah, yang ditegur malah sekolah. Keluarga tetap suci, tak pernah salah.

Hari Keluarga Nasional seharusnya jadi cambuk, bukan hanya ucapan manis di media sosial.

Ini saatnya kita sadar: membangun karakter bangsa tidak dimulai dari kurikulum baru, tapi dari ayah dan ibu yang mau hadir secara utuh  bukan sekadar pulang.

Jadi, selamat Hari Keluarga Nasional  untuk Anda yang masih ingat. Untuk yang belum tahu, tak apa. Memang kita lebih suka merayakan hal-hal yang ramai, bukan yang esensial.

(Budi.AF)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *