Sukabumi – Republiknews.com – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia yang digelar di Alun-Alun Pelabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Minggu (17/8/2025), berlangsung khidmat dan meriah.
Namun di balik upacara dan gemerlap pawai budaya, masih tersisa pertanyaan mendasar: apakah makna kemerdekaan sudah benar-benar dirasakan oleh seluruh rakyat di bumi Sukabumi?
Bupati Sukabumi dalam pidatonya menegaskan pentingnya mengisi kemerdekaan dengan kerja nyata. Pesan itu tentu relevan,
tetapi fakta di lapangan menunjukkan bahwa semangat “kerja nyata” sering kali terhambat oleh persoalan klasik: ketimpangan pembangunan, keterbatasan infrastruktur dasar, serta lambannya pemerataan kesejahteraan.
Di pelosok Sukabumi, masih ada desa yang sulit mengakses air bersih, masih ada jalan berlubang yang menunggu diperbaiki,
dan masih banyak keluarga yang kesulitan mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak.
Ironis, ketika pesta rakyat berlangsung di pusat kota, sebagian rakyat di pinggiran justru berjuang dengan persoalan sehari-hari yang tak pernah usai.
Kemerdekaan seharusnya bukan sekadar mengibarkan bendera setiap 17 Agustus. Ia seharusnya hadir dalam bentuk pendidikan yang merata, kesehatan yang mudah diakses, dan kesempatan kerja yang terbuka.
Tetapi hingga memasuki usia ke-80 tahun, kemerdekaan di Sukabumi masih dirasakan secara timpang, lebih dekat bagi mereka yang tinggal di pusat perkotaan, lebih jauh bagi warga di pedalaman.
Peringatan kemerdekaan kali ini seharusnya menjadi alarm bersama, bukan hanya pesta tahunan.
Pemerintah daerah perlu menepati janji-janji pembangunan, bukan sekadar menambah daftar retorika dalam pidato.
Sebab, kemerdekaan tidak akan berarti jika rakyat tetap terjajah oleh kemiskinan, keterbelakangan, dan ketidakadilan sosial.
(Budi AF)



















