Sukabumi – Republiknews.com – Mungkin kita memang terlalu pintar untuk masih percaya pada pelajaran membangun tenda atau menyalakan api unggun.
Di zaman ini, kita punya smart home, smartphone, bahkan smart fridge. Anak-anak kita tak perlu repot mencari kayu bakar, mereka hanya perlu colok charger.
Jadi, mungkin Pramuka memang terasa kuno.
Hanya saja… entah mengapa, generasi yang begitu “pintar” ini masih sering gagap saat diminta kerja sama,
bingung saat kehilangan sinyal, dan cepat menyerah hanya karena baterai habis.
Sebuah ironi kecil di zaman yang katanya serba pintar.
Pramuka tidak menawarkan teknologi canggih. Tidak ada algoritma yang membuat nilai Dasa Dharma jadi viral.
Ia hanya mengajarkan hal-hal kecil yang mungkin sepele: berdiri tegak saat baris-berbaris, bergiliran saat tugas regu, atau berbagi air minum di perjalanan.
Hal-hal yang barangkali tidak akan membuat anak kita jadi trending, tapi bisa membuat mereka tahu cara bertahan di dunia nyata, sesuatu yang, kebetulan, tidak dijual di marketplace mana pun.
Dan di balik setiap regu yang tertib, di balik setiap tali temali yang rapi, ada guru pembimbing yang diam-diam menukar waktu istirahatnya untuk memastikan anak-anaknya belajar dengan benar.
Mereka bukan hanya mengajarkan teknik mendirikan tenda, tapi juga membangun tenda di hati setiap anak: tenda yang melindungi dari putus asa, dari ego yang berlebihan, dari sikap masa bodoh pada sesama.
Mereka berjalan di belakang, tapi tanpa mereka, langkah anak-anak itu mungkin tersesat.
Menjelang Hari Kemerdekaan dan Jambore, kita tentu tidak muluk-muluk. Kita tidak berharap Pramuka mengubah seluruh bangsa.
Cukuplah ia menyelamatkan beberapa anak dari menjadi “pintar sendirian” di dunia yang terlalu sibuk pamer pintar.
Dan untuk para pembina Pramuka yang bekerja tanpa sorak-sorai, tanpa tepuk tangan, ketahuilah, di tengah dunia yang suka melupakan, teladan kalian adalah ingatan yang akan selalu tinggal, melekat dan menjadi kenangan.
(Budi AF)



















