Sukabumi – republiknews.com – Derasnya hujan yang mengguyur Kecamatan Simpenan beberapa hari terakhir bukan sekadar fenomena cuaca ekstrem, melainkan musibah yang menyisakan duka mendalam bagi warga Desa Cibuntu.
Banjir bandang yang disertai longsor memorakporandakan kawasan permukiman, menimbulkan kerusakan masif di berbagai titik, dan memaksa banyak warga meninggalkan rumah mereka dalam kondisi nyaris tanpa persiapan.
Data sementara menyebutkan, sedikitnya 10 unit rumah mengalami kerusakan total, 10 lainnya rusak sedang, sementara ratusan rumah lainnya mengalami rusak ringan akibat luapan air dan longsoran tanah yang menghantam perkampungan.
“Warga yang terdampak parah sebagian besar kini mengungsi ke Madrasah Legok Loa dan Cijolang. Sebagian lagi memilih menumpang di rumah keluarga dan kerabat,” ujar Asep Dede Sudrajat, Sekretaris Desa Cibuntu, saat ditemui di kantor desa cibuntu.
Akses jalan menuju Bagbagan, yang merupakan jalur vital keluar-masuk desa, sempat lumpuh total akibat tertimbun material longsoran.
Desa Cibuntu sempat berada dalam kondisi terisolasi selama beberapa waktu.
“Alhamdulillah, saat ini akses sudah mulai terbuka meskipun belum sepenuhnya pulih,” tambah Asep.
Kondisi di lapangan menunjukkan betapa rentannya infrastruktur desa terhadap bencana hidrometeorologi yang intensitasnya meningkat dari tahun ke tahun.
Belum ada posko resmi penanganan pasca bencana dari pemerintah kabupaten yang tampak beroperasi, sementara kebutuhan mendesak seperti logistik, air bersih, dan layanan kesehatan darurat terus berdatangan dari simpul-simpul solidaritas warga dan relawan setempat.
“Kami masih menunggu kepastian bantuan dari pemerintah. Warga sangat berharap, khususnya bagi yang rumahnya benar-benar luluh lantak, ada langkah konkret untuk relokasi atau pembangunan kembali hunian yang layak,” ungkap Asep, menyiratkan kekhawatiran sekaligus harapan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak Pemerintah Kabupaten Sukabumi mengenai skema bantuan maupun rencana rehabilitasi jangka pendek dan panjang untuk Desa Cibuntu.
Tragedi di Cibuntu menegaskan kembali betapa pentingnya mitigasi bencana berbasis komunitas dan tata ruang yang adaptif terhadap perubahan iklim.
Namun untuk saat ini, yang dibutuhkan warga bukan teori atau seminar, melainkan tindakan nyata.
*(Budi AF/Roy)




















