RepublikNews.com – Tahun Baru Islam selalu mengingatkan kita pada peristiwa hijrah. Sebuah perjalanan yang bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi keberanian untuk meninggalkan yang salah menuju yang lebih baik.
Namun pertanyaannya, apakah semangat hijrah masih hidup dalam kehidupan kita hari ini?
Kadang-kadang saya berpikir, mungkin yang paling sulit di negeri ini bukan membangun jalan, bendungan, atau program besar. Yang paling sulit justru tiga kata sederhana: “kami keliru.”
Sebab anehnya, semakin besar sebuah proyek, semakin kebal pula ia terhadap kenyataan. Ketika hasilnya dipertanyakan, jawabannya bukan evaluasi, melainkan argumentasi.
Ketika manfaatnya diragukan, yang ditambah bukan perbaikan, melainkan justifikasi.
Dan ketika rakyat mulai bertanya, yang salah bukan kebijakannya, tetapi rakyat dianggap belum memahami kebesaran rencananya.
Barangkali memang begitulah nasib rakyat. Mereka diminta percaya sebelum melihat hasil. Diminta sabar sebelum menerima manfaat. Bahkan kadang diminta bertepuk tangan sebelum pertunjukannya selesai.
Yang menarik, ketika pemeritah terus menghabiskan anggaran untuk sesuatu yang tidak jelas hasilnya. Tetapi justru yang bertanya sering dianggap menghambat program, bahkan di sebut antek asing.
Mungkin karena di zaman sekarang, citra lebih mudah dirawat daripada kepercayaan. Spanduk lebih mudah dipasang daripada keberhasilan diwujudkan. Dan pidato lebih cepat dibuat daripada hasil yang bisa dirasakan.
Muharram seharusnya mengajarkan bahwa hijrah adalah keberanian meninggalkan jalan yang tidak membawa maslahat. Bukan keberanian mempertahankan arah hanya karena papan petunjuknya sudah terlanjur dicetak jutaan lembar.
Sebab tidak semua yang besar pasti bermanfaat. Tidak semua yang mahal pasti berhasil. Dan tidak semua yang dipertahankan mati-matian berarti layak dipertahankan.
Rakyat sebenarnya tidak menuntut kesempurnaan. Mereka hanya ingin akal sehat tetap mendapat tempat. Mereka tidak meminta pemimpin yang selalu benar. Mereka hanya berharap pemimpin tidak alergi terhadap kenyataan.
Karena sejarah mengajarkan satu hal yang menarik. Banyak keputusan gagal bukan karena kurang anggaran. Bukan karena kurang dukungan. Bukan pula karena kurang promosi. Tetapi karena terlalu banyak gengsi yang harus diselamatkan.
Dan sering kali, ketika sebuah kebijakan mulai lebih sibuk menyelamatkan wajah daripada menyelesaikan masalah, saat itulah amanah mulai berubah menjadi ambisi.
Muharram tahun ini mengajak kita merenung. Jangan-jangan yang perlu berhijrah bukan hanya rakyat yang diminta beradaptasi.
Jangan-jangan yang perlu berhijrah adalah cara berpikir penguasa, bahwa setiap kritik adalah ancaman, setiap pertanyaan adalah perlawanan, dan setiap evaluasi adalah penghinaan.
Karena pada akhirnya, amanah tidak membutuhkan tepuk tangan. Amanah membutuhkan hasil.
Dan rakyat tidak hidup dari slogan. Rakyat hidup dari kenyataan.
*(Budi AF)



















