Example floating
Example floating
PeristiwaSukabumi

Membaca Ulang Pembangunan dari Tragedi Raya

×

Membaca Ulang Pembangunan dari Tragedi Raya

Sebarkan artikel ini

Sukabumi-Republiknews.com – Raya, bocah kecil dari Desa Cianaga, meninggal karena cacingan. Ironis sekali, di negeri yang sibuk memoles jalan, anak-anak masih kalah melawan penyakit yang seharusnya bisa diatasi dengan obat murah dan sanitasi sederhana.

Seperti biasa, setiap ada tragedi, kita buru-buru menunjuk satu orang untuk dipersalahkan. Kepala desa dituding abai.

Seolah-olah, jika saja ia lebih rajin membagi obat cacing, Raya akan selamat.

Padahal, mari kita jujur, siapa yang selama ini mendesak kepala desa untuk fokus pada kesehatan? Tidak ada.

Yang kita minta dari kepala desa hanyalah jalan mulus, jembatan kokoh, beton panjang.

Kepala desa tahu benar bagaimana cara “berhasil” di mata warganya: bangun jalan. Jalan adalah mata uang politik yang paling mudah diuangkan.

Jalan bisa difoto, diposting, dijadikan kebanggaan. Anak-anak sehat? Itu tidak bisa ditenderkan, tidak bisa dipotret dari udara dengan drone.

Jadilah pembangunan yang berat sebelah: beton berlapis-lapis, tapi perut anak-anak dibiarkan kosong atau dipenuhi cacing.

Raya bukan sekadar korban cacingan. Ia korban paradigma pembangunan yang salah kaprah.

Kita membangun desa seakan-akan hanya terdiri dari aspal dan semen, padahal desa juga terdiri dari manusia, dengan tubuh rapuh, dengan perut lapar, dengan anak-anak yang mestinya dijaga sejak lahir.

Kepala desa tentu tetap punya tanggung jawab. Tapi mari jangan pura-pura lupa: sistemlah yang menjeratnya.

Anggaran lebih mudah turun untuk jalan ketimbang untuk gizi anak. Laporan proyek beton lebih rapi di SPJ ketimbang laporan kesehatan.

Dan yang lebih menyedihkan, masyarakat pun ikut terjebak. Kepala desa akan dipuji jika jalannya mulus, bukan jika anak-anaknya sehat.

Kini, setelah Raya pergi, kepala desa menyampaikan duka dan janji evaluasi. Itu baik.

Tapi evaluasi tidak cukup jika pola pikir pembangunan tidak ikut diubah. Berhentilah menjadikan jalan sebagai tolak ukur tunggal keberhasilan.

Jalan itu penting, ya, tapi anak-anak yang sehat jauh lebih penting.

Sebab apa gunanya jalan mulus, bila yang melintasinya hanyalah ambulance yang membawa anak-anak kecil ke pemakaman?

Selamat jalan, Raya kecil…
Dalam usiamu yang begitu singkat, engkau telah mengajarkan kami arti sebuah kepedulian.

Engkau pergi bukan karena kalah, tetapi karena dunia ini belum cukup adil untukmu.

Semoga di alam sana, tak ada lagi rasa sakit, tak ada lagi perut lapar. Yang ada hanyalah tawa, bunga-bunga, dan pelukan kasih sayang tanpa batas.

(Budi AF)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *