Sukabumi, Republiknews.com – Jalan di Dusun Cikarakas, Desa Mekarjaya, Kecamatan Warungkiara, yang dikerjakan melalui program Banprov senilai Rp 98.000.000, rupanya dibangun dengan konsep “cepat rusak sebelum dibuka”.
Baru hitungan hari selesai, tetapi kondisinya sudah rontok seperti proyek coba-coba mahasiswa magang.
Dengan panjang 650 meter dan lebar 1 meter, proyek ini semestinya menjadi akses yang layak bagi warga.
Namun yang tampak justru jalan yang terkelupas, screening yang tidak menempel, dan batu-batu kecil yang berhamburan seperti habis diguyur badai—padahal baru disiram hujan gerimis pun sudah luluh lantak.
Pekerjaan baru mestinya kinclong, rapih, dan padat. Tetapi kenyataan di lapangan menunjukkan sebaliknya: permukaan belang-belang, pemadatan lemah, dan agregat yang lepas hanya diinjak sandal jepit.
Seorang warga bahkan menilai, “Ini mah baru selesai, tapi sudah mirip jalan bekas longsor.”
Kerusakan seperti ini biasanya akibat kadar aspal minim, pemadatan buruk, atau proses tabur screening yang asal lempar tanpa hitung waktu. Dengan kata yang lebih jujur: pekerjaan asal jadi.
Tetapi lebih dari sekadar kualitas pekerjaan, ada hal lain yang tidak kalah menarik: hilangnya suara pimpinan desa.
Media telah berupaya menghubungi Utom Bustomi, Kepala Desa Mekarjaya, untuk meminta klarifikasi.
Pesan WhatsApp terkirim, centang dua, tetapi balasan tak muncul. Tidak ada penjelasan, tidak ada bantahan, tidak ada upaya sekadar menunjukkan itikad baik.
Seolah-olah ketika jalan mulai rontok, tanggung jawab ikut rontok. Ketika screening tidak menempel, penjelasan pun tidak menempel.
Padahal proyek ini berada di bawah wilayah yang ia pimpin, menggunakan uang rakyat yang setiap rupiahnya wajib dipertanggungjawabkan.
Sikap diam ini justru menambah aroma janggal. Apakah kualitas buruk ini hasil pengawasan yang lemah? Pengendalian teknis yang asal-asalan? Atau ada sesuatu yang lebih gelap daripada permukaan jalan yang belang-belang itu?
Yang jelas, publik berhak tahu ke mana larinya kualitas pekerjaan hampir seratus juta rupiah ini, dan mengapa Kepala Desa lebih memilih bersembunyi dalam keheningan daripada menjelaskan kepada masyarakat yang memberinya mandat.
Investigasi akan terus berlanjut. Karena kalau jalan baru saja tak kuat bertahan beberapa hari, kebenaran tidak boleh ikut tumbang secepat itu juga.
(Budi AF)



















