Example floating
Example floating
1 Mei 2026
PendidikanSukabumi

Bangun Sebelum Ayam: Pendidikan Kita dan Ilusi Disiplin Pagi Buta

×

Bangun Sebelum Ayam: Pendidikan Kita dan Ilusi Disiplin Pagi Buta

Sebarkan artikel ini

Sukabumi – Repuliknews.com – Disdik kota Sukabumi memulai hari-harinya dengan gema kebijakan baru: siswa sekolah dasar hingga menengah kini ‘disarankan’ masuk pukul 06.30 pagi. Dalihnya: membentuk karakter, membiasakan disiplin, dan—seperti biasa—“demi masa depan bangsa.” Sebuah frasa sakral yang kerap digunakan untuk membungkus kebijakan terburu-buru.

Barangkali inilah era baru pendidikan: anak-anak yang bahkan belum sempat melihat matahari, harus lebih dulu melihat guru. Di tengah kabut pagi, mereka berjalan menyusuri jalanan sempit, mengalahkan waktu, mengalahkan kantuk, bahkan mungkin mengalahkan semangatnya sendiri. Pendidikan kita, tampaknya, lebih mengutamakan barisan rapi ketimbang pemikiran yang matang.

Kita tentu tidak menolak disiplin. Tetapi mari kita sepakat terlebih dahulu bahwa bangun pagi tidak serta-merta menghasilkan murid yang cerdas, guru yang bijak, atau sistem yang waras.

Ironisnya, kebijakan ini diterapkan secara linear—tanpa diferensiasi geografis, sosial, maupun psikologis. Seolah semua anak di Sukabumi lahir dari rahim yang sama: punya kendaraan sendiri, sarapan bergizi, rumah di samping sekolah, dan tidur tepat waktu. Padahal sebagian besar dari mereka hidup dalam konteks yang jauh dari ideal: minim transportasi, keluarga bekerja serabutan, listrik padam berkala, dan sarapan adalah kemewahan.

Tentu, akan selalu ada kepala dinas yang menjawab dengan nada lembut namun basa-basi, “Ini masih masa transisi.” Tapi kita semua tahu, dalam kamus birokrasi, transisi seringkali hanya nama lain dari pemaksaan bertahap.

Dan lagi, alih-alih memperbaiki kualitas guru, kurikulum yang stagnan, atau ruang kelas yang sesak oleh 40-an murid, perhatian justru teralihkan pada jam masuk sekolah. Kita sibuk mengatur jam, namun lalai mengatur arah.

Bila pendidikan diibaratkan ladang, maka yang kita tanam hari ini bukanlah benih kebijaksanaan, tapi alarm pagi yang memekakkan—tanpa tahu apa yang akan dipanen. Mungkin sekadar murid dan guru yang patuh tanpa semangat.

Pada akhirnya, kita patut bertanya: benarkah ini untuk anak-anak, atau sekadar untuk rapor kinerja pejabat? Karena dalam sistem yang waras, yang lebih dulu bangun bukan murid, tapi kesadaran.

(Budi AF)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *