Example floating
Example floating
1 Mei 2026
Opini

HARDIKNAS: Pendidikan untuk Semua, atau Semua untuk Ilusi Pendidikan?

×

HARDIKNAS: Pendidikan untuk Semua, atau Semua untuk Ilusi Pendidikan?

Sebarkan artikel ini

RepublikNews.com – Setiap 2 Mei, kita kembali merayakan sesuatu yang katanya paling menentukan masa depan bangsa: pendidikan. Tema Ditetapkan lewat Surat Edaran resmi dengan penuh keyakinan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi:
“Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua.”

Kalimatnya terdengar seperti janji.
Masalahnya, kita sudah terlalu sering dijanjikan hal yang sama—dengan diksi yang makin puitis, tapi realitas yang tetap prosa pahit.

“Partisipasi semesta.”
Kedengarannya seperti semua orang dilibatkan. Tapi di lapangan, yang paling sering “berpartisipasi” justru mereka yang tidak punya pilihan: guru.

Guru diminta kreatif, inovatif, adaptif, kolaboratif, bahkan multitasking sampai mendekati supranatural. Kalau perlu, mungkin sekalian saja ditambah kemampuan teleportasi—biar bisa mengajar, mengurus administrasi, dan mencari tambahan penghasilan dalam satu waktu.

Karena faktanya, tuntutan terhadap guru terus naik, sementara penghargaan sering tetap di tempat. Terutama bagi guru honorer—kelompok yang sudah terlalu lama diajak berjuang tanpa benar-benar diajak sejahtera.

Gaji yang kadang tak cukup untuk hidup layak, status yang tak kunjung pasti, tapi tanggung jawabnya sama, bahkan sering lebih berat.

Kalau ini yang disebut “partisipasi”, maka jujur saja: ini lebih mirip pemaksaan yang dibungkus kata-kata indah.

Lalu kita bicara “pendidikan bermutu untuk semua.”
Di saat yang sama, anggaran pendidikan yang katanya mencapai 20% APBN itu terasa seperti angka besar yang cepat mengecil begitu menyentuh realitas.

Program demi program bermunculan—salah satunya Makan Bergizi Gratis yang dielu-elukan sebagai solusi masa depan generasi.
Niatnya mungkin baik.
Tapi pertanyaannya sederhana: apakah ini prioritas, atau sekadar memenuhi janji politik?

Ketika sebagian besar energi dan anggaran tersedot ke program yang tidak langsung menyentuh kualitas pembelajaran, sementara ruang kelas masih kekurangan fasilitas, dan guru—terutama honorer—masih berjuang untuk sekadar hidup layak, maka yang terjadi bukan penguatan pendidikan, melainkan pengaburan masalah.

Ironinya makin lengkap: anak-anak diberi makan bergizi agar siap belajar, tapi yang mengajarnya justru masih harus bertahan dengan “gizi ekonomi” yang memprihatinkan. Ini bukan lagi ironi halus—ini hampir terasa seperti satire yang terlalu nyata untuk ditertawakan.

Kita suka sekali membanggakan angka—angka partisipasi sekolah, angka kelulusan, angka program. Tapi kita jarang jujur pada kualitas di balik angka itu. Karena angka tidak pernah protes. Angka tidak pernah bertanya kenapa guru honorer harus bertahan dengan penghasilan yang jauh dari layak, sementara beban kerja tidak pernah setengah-setengah.

Yang bertanya itu manusia.
Dan sering kali, jawabannya: “sabar dulu.”

Satirnya begini: kita berbicara tentang masa depan yang hebat, tapi masih memperlakukan pilar utamanya dengan setengah hati.

Kita menggaungkan “untuk semua”, tapi terlalu sering lupa memastikan bahwa “semua” itu benar-benar merasakan.

Dan setiap tahun, kita ulangi lagi:
tema baru, janji baru, program baru—dengan luka lama yang tidak pernah benar-benar ditutup.

Mungkin pendidikan kita memang luar biasa.
Luar biasa dalam satu hal: kemampuannya terlihat megah di atas kertas, sambil tetap rapuh di kenyataan.

Jadi, kalau hari ini kita kembali mengucapkan selamat Hari Pendidikan Nasional, mungkin yang perlu ditambahkan bukan hanya ucapan.
Tapi juga keberanian untuk jujur:
Bahwa pendidikan tidak butuh slogan yang lebih besar.
Yang dibutuhkan adalah keberpihakan yang lebih nyata.

Karena kalau guru masih harus berjuang untuk hidup,
dan anggaran lebih sibuk terlihat hebat daripada terasa manfaatnya,
maka “pendidikan untuk semua” akan terus terdengar indah—
tanpa pernah benar-benar menjadi nyata.
(Budi AF)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *