Example floating
Example floating
Opini

MBG—Antara Manfaat, Tantangan, dan Kecemburuan Sosial

×

MBG—Antara Manfaat, Tantangan, dan Kecemburuan Sosial

Sebarkan artikel ini

RepublikNews.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) datang dengan sesuatu yang jarang dimiliki kebijakan publik: niat baik yang langsung terasa.

Anak-anak makan, perut kenyang, belajar pun lebih fokus. Tidak banyak program yang dampaknya bisa dilihat secepat ini. Maka wajar jika MBG dapat perhatian—karena ia bekerja, setidaknya pada hal yang paling dasar: mengisi lapar.

Namun, di negeri yang lebih cepat menilai daripada memahami, kebaikan sering kali harus hidup berdampingan dengan sorotan yang tidak selalu adil.

Di lapangan, tentu ada kekurangan. Distribusi yang belum rapi, kualitas makanan yang kadang tak konsisten, hingga hal-hal teknis yang sebenarnya wajar dalam program sebesar ini.

Tapi yang menarik, kesalahan-kesalahan kecil ini tidak pernah benar-benar kecil ketika sudah masuk ke beranda media sosial.

Satu lauk yang dianggap kurang layak, satu porsi yang terlihat “tidak sesuai ekspektasi”, satu video pendek dengan narasi yang menggiring—cukup untuk membuat MBG seolah gagal total. Viral, dibagikan ribuan kali, lalu dihakimi berjamaah.

Padahal, publik jarang bertanya: itu kejadian di mana? Berapa banyak yang berjalan baik dibanding yang bermasalah? Apakah itu pengecualian atau gambaran umum?
Di era ini, satu kejadian bisa mengalahkan seribu keberhasilan.

Ironisnya, kesalahan kecil dalam MBG lebih cepat mendapat panggung dibanding persoalan besar yang sudah lama ada tapi tak pernah viral. Seolah-olah, yang baru harus langsung sempurna, sementara yang lama boleh terus dimaafkan.

Dan di sinilah MBG berdiri di posisi yang tidak mudah: dibutuhkan, tapi juga diawasi tanpa ampun.

Di sisi lain, ada lapisan persoalan yang lebih dalam—yang tidak selalu viral, tapi terasa nyata. Bukan dari mereka yang menerima manfaat, melainkan dari mereka yang melihat dari kejauhan, sambil membawa pengalaman panjang dalam pengabdian.

Ada rasa yang sulit diucapkan, tapi mudah dirasakan: ketika sesuatu yang baru hadir dengan perhatian, dukungan, dan bahkan kompensasi yang lebih baik, sementara mereka yang sudah puluhan tahun berkontribusi justru tetap berada di titik yang sama.

Bukan soal menolak MBG. Justru sebaliknya—banyak yang mendukung. Tapi dukungan itu bercampur dengan satu pertanyaan yang mengganggu: mengapa yang baru terasa lebih diperhatikan, sementara yang lama seolah cukup “ditahan” saja?

Ini bukan sekadar kecemburuan. Ini soal perbandingan yang tak terhindarkan.
Dan ketika media sosial sibuk membesar-besarkan kesalahan kecil MBG, di saat yang sama ia juga diam terhadap ketimpangan yang sudah lama berlangsung. Yang viral diperdebatkan, yang struktural dibiarkan.

MBG akhirnya menjadi simbol yang kompleks. Ia membawa manfaat nyata, tapi juga tanpa sengaja membuka luka lama. Ia bekerja di lapangan, tapi dihakimi di layar. Ia dibela oleh kebutuhan, tapi diuji oleh persepsi.

Maka yang perlu dilakukan bukan sekadar membela atau mengkritik. Tapi menempatkan semuanya secara proporsional.

Kesalahan kecil harus diperbaiki, bukan dibesar-besarkan. Keberhasilan harus diakui, bukan diabaikan. Dan yang paling penting, keadilan sosial tidak boleh kalah oleh euforia program baru.

Karena pada akhirnya, masalahnya bukan pada MBG yang berjalan.
Tapi pada cara kita melihat—yang sering kali lebih tajam ke yang baru, dan lebih longgar pada yang sudah lama.
(Budi AF)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *