Example floating
Example floating
Opini

Dana Desa Tidak Sampai ke Rakyat, Lalu Mengapa Dipotong?

×

Dana Desa Tidak Sampai ke Rakyat, Lalu Mengapa Dipotong?

Sebarkan artikel ini

RepublikNews.com, – 
“Sepuluh tahun dana desa tidak sampai ke rakyat.”

Kalimat ini terdengar keras. Bahkan seperti sebuah vonis yang dijatuhkan tanpa ruang pembelaan.

Seolah-olah selama satu dekade dana miliaran rupiah yang mengalir ke desa hanya berhenti di meja aparatur, lalu menguap tanpa jejak.

Narasi semacam ini mudah sekali beredar. Ia sederhana, mudah dipercaya, dan cepat memancing emosi.

Namun persoalan desa tidak pernah sesederhana satu kalimat.

Dana desa sejak awal tidak dirancang sebagai uang yang langsung dibagikan kepada warga seperti bantuan tunai. Ia adalah instrumen pembangunan desa.

Dana itu bekerja melalui sistem yang panjang: mulai dari perencanaan, musyawarah desa, penyusunan APBDes, pelaksanaan kegiatan, hingga laporan pertanggungjawaban.

Dari pemerintah pusat dana ditransfer ke daerah, lalu masuk ke rekening desa. Di tingkat desa, penggunaannya dibahas bersama melalui musyawarah desa, dituangkan dalam rencana kerja, diverifikasi, dan baru kemudian dilaksanakan.

Prosesnya tidak pendek. Aturannya pun tidak sedikit.

Bagi banyak perangkat desa, mengelola dana desa bahkan terasa seperti menjalankan sebuah sistem administrasi kecil di tengah kampung, lengkap dengan kewajiban laporan, verifikasi, dan pengawasan berlapis.

Karena itu, ketika muncul tudingan bahwa dana desa tidak sampai kepada rakyat, sebenarnya cukup mudah untuk mengujinya.

Lihat saja perubahan yang terjadi di banyak desa.

Jalan lingkungan yang dulu berlumpur kini berubah menjadi rabat beton. Drainase yang dulu tersumbat kini mengalir.

Posyandu yang dulu menumpang kini memiliki bangunan sendiri. Jembatan kecil, irigasi desa, hingga bantuan langsung tunai bagi keluarga kurang mampu—semuanya lahir dari kebijakan dana desa.

Perubahannya mungkin tidak selalu besar, tetapi nyata.

Justru karena manfaat itu terasa, desa selalu menunggu setiap pencairan dana desa untuk melanjutkan program pembangunan yang telah direncanakan.

Namun pada tahun 2026, situasi berubah. Pemerintah melakukan penyesuaian fiskal yang berdampak pada berkurangnya alokasi dana desa di berbagai daerah.

Desa harus kembali menghitung ulang rencana mereka. Beberapa kegiatan pembangunan terpaksa ditunda. Prioritas harus dipilih dengan lebih ketat, sementara kebutuhan masyarakat tidak pernah ikut berkurang.

Di titik inilah muncul ironi yang sulit diabaikan.

Di satu sisi muncul narasi bahwa dana desa selama ini tidak pernah sampai kepada rakyat. Tetapi di sisi lain, ketika anggarannya berkurang, justru desa yang pertama kali merasakan dampaknya.

Jika benar dana desa tidak pernah memberi manfaat, seharusnya pemotongan itu tidak akan terasa.

Tetapi kenyataannya berbeda. Banyak desa kini harus menunda pembangunan jalan lingkungan, memperlambat perbaikan drainase, atau mengurangi program pemberdayaan masyarakat karena keterbatasan anggaran.

Artinya, dana desa memang bekerja.
Tentu saja bukan berarti pengelolaannya sudah sempurna. Transparansi masih perlu diperkuat.

Pengawasan harus terus diperbaiki. Kapasitas pengelolaan di beberapa desa juga masih perlu ditingkatkan.
Kritik terhadap pengelolaan dana desa tetap penting.

Namun kritik yang sehat seharusnya berdiri di atas data, bukan sekadar asumsi.

Sebab terlalu mudah mengatakan bahwa dana desa tidak sampai kepada rakyat, tanpa melihat proses panjang yang dilalui, aturan yang mengikatnya, dan manfaat nyata yang sudah dirasakan di banyak desa.

Pada akhirnya, dana desa bukan milik kepala desa. Bukan pula milik pemerintah pusat.

Dana desa adalah uang rakyat yang dikembalikan ke desa untuk membangun desa.

Maka yang dibutuhkan bukan sekadar saling menuding, tetapi keberanian untuk melihat persoalan secara utuh: memperbaiki pengelolaan yang masih lemah, memperkuat transparansi, sekaligus memastikan kebijakan anggaran tidak justru melemahkan pembangunan desa.

Karena desa tidak membutuhkan polemik.
Desa membutuhkan kejelasan arah, kepercayaan, dan kebijakan yang berpihak pada rakyatnya.
(Budi/Roy)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *