1 Mei 2026
Sidoarjo

Tradisi 1 Suro: Harmoni Spiritual dan Budaya di Tengah Masyarakat Sidoarjo

×

Tradisi 1 Suro: Harmoni Spiritual dan Budaya di Tengah Masyarakat Sidoarjo

Sebarkan artikel ini
Foto : Kabiro Sidoarjo, Republiknews.com, Agung Harry F.
Foto : Kabiro Sidoarjo media Republiknews.com, Agung Harry F.

Republiknews.com,Sidoarjo, 1 Muharram 1447 H / 2026 M – Masuknya tahun baru Islam yang jatuh setiap tanggal 1 Muharram atau yang dikenal masyarakat Jawa sebagai 1 Suro selalu menjadi momen istimewa di berbagai pelosok Jawa Timur, tak terkecuali Kabupaten Sidoarjo.

Di sini, perayaan tak sekadar penanda pergantian tahun kalender, melainkan perpaduan erat antara nilai agama Islam, kearifan lokal, dan semangat persaudaraan warga.

Seperti dicatat Kabiro media Republik News Sidoarjo,Agung Harry F,suasana khas sudah mulai terasa sejak malam satu suro. Mulai dari masjid, musala, hingga balai desa dipenuhi warga dari berbagai lapisan usia dan latar belakang.

Langit malam pun sering kali dihiasi suara takbir yang bergema beriringan dengan lantunan puji-pujian tradisional, menjadi ciri khas yang diwariskan turun-temurun.

Tradisi yang Hidup di Tiap Sudut Desa

Berbeda dengan perayaan tahun baru lainnya, 1 Suro di Sidoarjo identik dengan nuansa ketenangan dan perenungan diri.

Berbagai tradisi masih lestari dijaga warga: mulai dari pengajian akbar bersama tokoh agama dan adat, doa bersama untuk keselamatan negeri, hingga tradisi mandi suci atau nyadran yang dilakukan di sungai-sungai bersejarah maupun sumber mata air keramat setempat.

Tak ketinggalan, tradisi makan bersama di rumah atau tempat ibadah yang dikenal sebagai kenduri atau selametan juga tetap menjadi bagian tak terpisahkan.

Warga membawa nasi tumpeng, jajanan pasar, serta lauk pauk hasil bumi setempat, lalu disantap bersama sambil saling berpesan agar di tahun yang baru senantiasa menjaga silaturahmi dan menjauhi perbuatan buruk.

Menurut salah seorang tetua adat di kawasan Sukodono, tradisi ini menjadi bukti bahwa Islam dan budaya Jawa tumbuh berdampingan tanpa saling menyinggung.

Makna Mendalam di Balik Perayaan

Bagi warga Sidoarjo, 1 Muharram bukan sekadar perayaan seremonial. Tahun baru Islam menjadi waktu untuk berhenti sejenak dari kesibukan sehari-hari, merenungi perbuatan setahun lalu, serta memperbaiki niat dan perilaku ke arah yang lebih baik.

Nilai taubat, kesederhanaan, dan persaudaraan menjadi inti dari seluruh rangkaian kegiatan yang diselenggarakan.

“Setiap kali 1 Suro tiba, kami mengajak anak-anak dan pemuda untuk tidak hanya ikut merayakan, tapi pahami pesan di baliknya: bersihkan hati, pererat persaudaraan,” ujar salah satu tokoh pemuda saat ditemui di lokasi kegiatan.

Semangat itu pun terlihat jelas, di mana kegiatan 1 Suro sering kali dikelola sendiri oleh gabungan karang taruna, kelompok pengajian, dan perangkat desa tanpa menunggu bantuan pihak luar secara berlebihan.

Peran Berkelanjutan Menjaga Warisan

Pihak Kabiro Media Republik News Sidoarjo mencatat bahwa kelestarian tradisi ini tak lepas dari dukungan berbagai pihak, mulai dari tokoh agama, adat, hingga pemerintah daerah yang senantiasa memberi ruang bagi warga menjalankan ibadah dan adat istiadatnya masing-masing.

Kegiatan pun dijalankan dengan aman, tertib, dan tetap memperhatikan norma kesopanan serta ketentuan umum yang berlaku.

Kini, tradisi 1 Suro di Sidoarjo terus bertransformasi seiring berjalannya waktu, namun tetap berpegang pada akar nilai aslinya.

Dari generasi ke generasi, momen pergantian tahun baru Islam ini tetap menjadi jembatan pemersatu yang kuat, mengingatkan kembali bahwa damai dan persatuan dimulai dari hati yang bersih dan niat yang tulus.

(AHF)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *