BITUNG, SATHANTAI KODAERAL VIII memperkuat kapasitas sumber daya manusia dalam menghadapi transformasi digital melalui pelatihan media sosial bertajuk “SAMUDRA DIGITAL — Sāgara Aṅkīya”.
Kegiatan ini membekali personel dengan kemampuan mengelola Instagram, TikTok, dan Facebook secara aman, tematik, terukur, serta tetap menjaga profesionalisme dan kewibawaan institusi TNI Angkatan Laut.
Pelatihan melibatkan Komandan SATHANTAI KODAERAL VIII Kolonel Laut (P) Dedi Wardana, S.T., M.Tr.Hanla., Prof. Dr. Drs. Wilson Bangun, M.Si., Kaprodi Doktor Ilmu Manajemen Universitas Kristen Maranatha Bandung, serta Jupiter Weku, S.E., M.M. sebagai pemateri pelatihan media sosial.
Komandan SATHANTAI KODAERAL VIII, Kolonel Laut (P) Dedi Wardana, menegaskan bahwa perkembangan media digital membutuhkan kemampuan personel untuk menggunakan media sosial secara lebih terarah dan bertanggung jawab.
“Pelatihan ini membantu menjadi guide dalam pengelolaan media sosial, sehingga personel memiliki arah dalam membuat, mengelola, dan menyampaikan informasi kepada masyarakat,” ujar Dedi Wardana.
Menurutnya, media sosial kini memiliki posisi penting dalam komunikasi institusi. Karena itu, pengelolaannya tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan membuat unggahan, tetapi membutuhkan pemahaman mengenai pesan, audiens, keamanan informasi, serta dampak komunikasi terhadap masyarakat.
Hal tersebut sejalan dengan konsep Samudra Digital yang menempatkan media sosial TNI AL bukan sekadar sebagai tempat mempublikasikan kegiatan, melainkan sebagai ruang untuk menjelaskan pengabdian, membangun kesadaran kebaharian, melayani kebutuhan informasi publik, dan menjaga kepercayaan masyarakat.
SDM Maju Harus Mampu Beradaptasi dengan Teknologi
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Dr. Drs. Wilson Bangun, M.Si. menekankan pentingnya pengembangan sumber daya manusia yang mampu mengikuti perubahan teknologi.
Menurut Wilson, kemajuan organisasi tidak hanya ditentukan oleh tersedianya teknologi, tetapi terutama oleh kesiapan manusianya untuk belajar, berubah, dan beradaptasi.
“SDM yang maju harus mampu beradaptasi dengan teknologi.
Perubahan teknologi menuntut manusia untuk terus belajar dan mengembangkan kompetensinya agar teknologi benar-benar memberikan manfaat bagi organisasi,” jelas Wilson Bangun.
Pesan tersebut semakin relevan di tengah berkembangnya Artificial Intelligence (AI) yang mulai mengubah pola kerja organisasi, termasuk dalam komunikasi dan produksi konten digital.
AI kini dapat membantu pencarian ide, penyusunan narasi, pembuatan visual, subtitle, pengelompokan tema hingga analisis performa konten.
Namun, penggunaan AI dalam komunikasi institusi tetap membutuhkan human judgment.
Teknologi dapat mempercepat pekerjaan, tetapi akurasi informasi, keamanan, etika, dan keputusan publikasi tetap berada pada manusia dan mekanisme organisasi.
Dari “Posting” Menuju Komunikasi Digital Strategis
Jupiter Weku dalam materinya menekankan bahwa tantangan media sosial saat ini bukan lagi sekadar bagaimana membuat konten yang menarik,
melainkan bagaimana menghasilkan konten yang benar, relevan, aman, mudah ditemukan, dan memberikan nilai kepada masyarakat.
Materi pelatihan mencakup penyusunan content pillar, pemetaan audiens, strategi Instagram, Facebook dan TikTok, social media SEO, hashtag, foto, carousel, Reels, video pendek, community management, penanganan hoaks, komunikasi krisis, hingga pengukuran performa media sosial.
“Di era AI, membuat konten menjadi semakin mudah dan cepat.
Tantangannya justru bagaimana memastikan teknologi menghasilkan komunikasi yang semakin berkualitas, bukan sekadar semakin banyak.
Untuk institusi, pertanyaannya bukan hanya apakah kontennya menarik, tetapi apakah faktanya benar, aman dipublikasikan, sesuai kewenangan, dan bermanfaat bagi masyarakat,” kata Jupiter. Sabtu(05/09/26)
Salah satu pendekatan yang diperkenalkan adalah kerangka “SIAP POST”, yaitu pemeriksaan terhadap Sumber, Izin, Aman, Pesan, Platform, Optimasi, Siaga, dan Tinjau sebelum sebuah konten dipublikasikan.
Prinsip tersebut semakin penting di tengah kemampuan AI menghasilkan teks, gambar dan video dalam waktu singkat serta meningkatnya risiko misinformasi, manipulasi visual dan deepfake.
Pelatihan juga menekankan bahwa kecepatan publikasi tidak boleh mengalahkan proses verifikasi. Konten institusi harus resmi tetapi mudah dipahami, tegas tanpa arogan, humanis tanpa kehilangan wibawa, serta terbuka dengan tetap menjaga keamanan informasi.
Teknologi Kuat, SDM Tetap Menjadi Kunci
Melalui “Samudra Digital”, SATHANTAI KODAERAL VIII mendorong perubahan paradigma dari sekadar menggunakan media sosial menuju mengelola komunikasi digital secara strategis.
Keberhasilan media sosial pun tidak hanya dinilai berdasarkan followers dan likes.
Pelatihan memperkenalkan indikator yang lebih substantif seperti reach, watch time, completion rate, shares, saves, kualitas dialog publik, sentimen, pelayanan informasi hingga kemampuan mendeteksi dan merespons misinformasi.
Pelatihan ini menegaskan bahwa transformasi digital pada akhirnya bukan hanya persoalan teknologi. AI dapat mempercepat proses, platform dapat memperluas jangkauan, tetapi kualitas SDM tetap menentukan bagaimana teknologi digunakan secara cerdas, aman dan bertanggung jawab.
Dengan semangat Samudra Digital, SATHANTAI KODAERAL VIII memperkuat kesiapan personel menghadapi era komunikasi berbasis AI sekaligus membangun kehadiran digital TNI Angkatan Laut yang semakin profesional, adaptif, informatif dan berwibawa.




















