Sukabumi – Republiknews.com – Menjelang Hari Pramuka 14 Agustus, kita kembali melihat anak-anak mengenakan seragam cokelat, berbaris, mendirikan tenda,
dan mengikuti berbagai kegiatan yang bagi sebagian orang mungkin terasa sederhana.
Di zaman smartphone dan kecerdasan buatan, mungkin ada yang bertanya: Untuk apa anak-anak masih belajar tali-temali, baris-berbaris, atau membuat api unggun?
Bukankah semua bisa dicari di internet?
Pertanyaan itu masuk akal.
Namun masalahnya, anak-anak hari ini semakin mudah mendapatkan informasi, tetapi belum tentu semakin siap menghadapi kehidupan.
Mereka bisa berkomunikasi dengan banyak orang melalui layar, tetapi belum tentu terbiasa bekerja dalam kelompok.
Terbiasa dengan internet, tetapi bisa bingung ketika kehilangan sinyal.
Terbiasa mendapatkan sesuatu dengan cepat, tetapi mudah kecewa ketika harus menunggu dan berusaha.
Di sinilah Pramuka masih memiliki alasan untuk tetap ada.
Pramuka bukan tempat untuk menjadi anak paling pintar. Pramuka mengajarkan agar kepintaran tidak berhenti pada diri sendiri.
Mendirikan tenda mengajarkan kerja sama. Baris-berbaris melatih disiplin.
Kegiatan regu mengajarkan tanggung jawab, berbagi tugas, dan menghargai orang lain.
Tetapi kita juga harus jujur.
Pramuka tidak akan berarti jika hanya berhenti pada seragam, upacara, tepuk tangan, dan kegiatan seremonial.
Dasa Dharma bukan sekadar untuk dihafalkan. Nilai Pramuka baru berarti ketika dibawa ke kehidupan sehari-hari: berani mengakui kesalahan, tidak mudah menyerah, mau membantu, dan mampu bekerja sama dengan orang lain.
Di balik semua itu ada para pembina yang sering bekerja tanpa sorotan.
Mereka bukan hanya mengajarkan cara mendirikan tenda. Mereka sedang melatih ketelitian, kedisiplinan, kemandirian, dan keberanian untuk mencoba lagi ketika gagal.
Menjelang Hari Pramuka ke-65 pada 14 Agustus 2026, mungkin kita tidak perlu menganggap Pramuka sebagai kegiatan paling hebat.
Cukup tanyakan: apakah setelah mengikuti Pramuka, anak-anak kita menjadi lebih disiplin, mandiri, peduli, dan mampu bekerja sama?
Jika jawabannya iya, Pramuka belum menjadi sesuatu yang kuno.
Teknologi boleh semakin pintar. Kecerdasan buatan boleh semakin canggih.
Tetapi manusia tetap membutuhkan kemampuan untuk bekerja sama, bertanggung jawab, bertahan ketika keadaan sulit, dan peduli kepada sesama.
Kemampuan itu tidak bisa diunduh dari internet.
Dan mungkin, itulah alasan Pramuka masih diperlukan: bukan untuk membawa anak kembali ke masa lalu, tetapi agar mereka tidak kehilangan kemampuan paling sederhana untuk menjadi manusia.
Untuk para pembina Pramuka yang bekerja tanpa banyak sorotan, selamat menyambut Hari Pramuka.
Mungkin hari ini anak-anak belum memahami semua yang kalian ajarkan. Tetapi suatu hari nanti, ketika mereka menghadapi kehidupan sendiri, mereka mungkin akan mengingat satu hal:
pernah ada seseorang yang mengajarkan mereka untuk tidak mudah menyerah.
*(Budi AF)




















