Sukabumi – republiknews.com – Ternyata ada kepala sekolah. yang lebih pusing kehilangan infak dan larangan jualan kaos seragam, daripada kehilangan murid yang tidak bisa membaca.
Ironis, tapi nyata. Seolah-olah tanpa mungut infak dan jual kaos seragam, roda pendidikan tak bisa berputar.
Lucu sekali. Bukankah infak katanya sukarela? Tapi kok reaksinya mirip orang yang baru kehilangan ATM? Bukankah kaos cuma seragam?
Tapi kenapa dilarang jualan kaos terasa seperti bisnis besar yang ditutup paksa?
Kalau benar hanya soal “sukarela dan seragam”, mestinya tidak segusar dan segalau ini.
Atau… jangan-jangan ada “bonus tersembunyi” di balik penarikan infak dan penjualan kaos itu?
Yang lebih menggelikan, keluhan ini disampaikan dengan wajah serius, di ruangan kantor pada Rabu (27/8/2025).
Seolah sedang membahas masa depan bangsa. Padahal isinya cuma: “larangan pungutan infak dan larangan penjualan kaos seragam.”
Wah, luar biasa sekali prioritas pendidikan kita. Bukanya karena anak-anak masih gagap membaca, tapi yang bikin kepala sekolah panik justru hilangnya peluang usaha sampingan.
Mari kita beri tepuk tangan. Inilah potret kepala sekolah senior golongan VI/c yang luar biasa: lebih peduli pada kantong uang daripada otak anak didik.
Lebih galau melihat seragam tak bisa dijual, daripada murid tak bisa menulis.
Kalau sekolah adalah panggung, maka kepala sekolah ini aktornya—sayang, perannya bukan sebagai pendidik, melainkan pedagang yang kehilangan lapak.
Sekolah itu rumah ilmu, bukan toko seragam. Kepala sekolah itu pendidik, bukan kasir infak. Murid itu anak bangsa, bukan pelanggan.
Tapi melihat keluhan seperti ini, kita jadi bingung: ini sekolah atau minimarket?
(Budi AF)



















