Sukabumi – Republiknews.com – Hari Kebangkitan Nasional. Lagi-lagi datang, lagi-lagi dirayakan. Spanduk terpasang, pidato dibacakan, anak-anak disuruh hormat ke tiang bendera sambil mendengarkan nama Boedi Oetomo yang entah siapa. Lalu selesai.
Tahun depan diulang lagi, dengan tema yang tak jauh beda: “Bangkit”, “Semangat”, dan “Masa Depan”.
Tahun ini katanya soal “Membangkitkan Semangat Belajar, Membangun Masa Depan Indonesia.” Kedengarannya mulia.
Tapi hati-hati: di negeri ini, semakin indah tema yang diumumkan, semakin kita patut curiga bahwa isinya bisa jadi hanya upaya menambal reputasi yang bocor.
Kita disuruh membangkitkan semangat belajar, padahal guru masih dibayar setara dengan tukang parkir pusat perbelanjaan.
Kita diajak membangun masa depan, sementara gedung sekolah di pinggiran tinggal menunggu rubuh, bukan karena gempa, tapi karena dilupakan.
Ironisnya, yang rajin ikut seminar pendidikan justru mereka yang makin jauh dari ruang kelas. Yang bicara “literasi digital” adalah orang-orang yang membaca pun tak sampai dua buku dalam setahun.
Bangsa ini tampaknya sepakat bahwa pendidikan itu penting—asal jangan sampai bikin rakyat terlalu pintar.
Sebab kalau rakyat terlalu kritis, bisa bahaya. Mereka mulai bertanya kenapa anggaran habis di tengah jalan, kenapa proyek rehab sekolah lebih sering molor dari pembangunan mal, dan kenapa nilai rapor lebih diprioritaskan daripada logika murid.
Coba kita tengok realitas: siswa dijejali kurikulum “merdeka”, tapi gurunya terbelenggu administrasi.
Dan yang lebih menggelikan, sistem pendidikan kita sibuk memoles murid agar “siap kerja”, seolah sekolah adalah pabrik, bukan ruang tumbuh manusia.
Lalu kita pun ramai-ramai merayakan Hari Kebangkitan Nasional. Tapi mari jujur, yang bangkit itu apa? Semangat belajarnya? Atau anggaran seremonial dan potret selfie di lapangan upacara?
Jangan-jangan, kita sedang merayakan kebangkitan ilusi—di mana semua terlihat baik-baik saja asal dipotret dari sudut yang pas.
Padahal sejatinya, bangkit itu bukan berdiri di depan mikrofon lalu menyebut nama-nama pahlawan.
Bangkit adalah ketika seorang anak di kampung terpencil tidak lagi harus belajar di bawah lampu minyak.
Ketika guru tak perlu menjual pulsa untuk menyambung hidup. Ketika pendidikan tidak lagi diperlakukan sebagai komoditas, tetapi sebagai hak dasar warga negara.
Sebab kalau pendidikan hanya dijadikan proyek lima tahunan, dan semangat belajar hanya hidup dalam dokumen RPJMD, maka sesungguhnya kita sedang memelihara kebodohan yang sistematis—dengan gaya dan tata bahasa yang akademis.
Maka selamat Hari Kebangkitan Nasional. Semoga kita benar-benar bangkit. Tapi kalau belum bisa bangkit sepenuhnya, minimal jangan menekan kepala mereka yang baru mau berdiri.
(Budi. AF)




















