SIDOARJO, republiknews.com .— Pemerintah Kabupaten Sidoarjo terus mendorong percepatan pembangunan Jembatan Candinegoro, Kecamatan Wonoayu, agar dapat diselesaikan sesuai target pada Desember 2026.
Untuk mengejar keterlambatan progres fisik, pelaksana proyek mulai menerapkan sistem kerja selama 24 jam dengan menambah tenaga kerja dan membagi pekerjaan dalam lebih dari satu shift.
Percepatan tersebut dilakukan setelah progres pembangunan jembatan mengalami deviasi keterlambatan fisik yang mencapai sekitar minus 9,94 persen.
Kondisi itu menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Sidoarjo karena proyek jembatan tersebut ditargetkan dapat segera dimanfaatkan masyarakat.
Bupati Sidoarjo H Subandi SH MKn melakukan inspeksi mendadak atau sidak ke lokasi pembangunan Jembatan Candinegoro pada Selasa pagi, 6 Oktober 2026.
Dalam kunjungan tersebut, Bupati meminta agar keterlambatan pekerjaan segera dikejar melalui penambahan jam kerja dan tenaga pelaksana.
Pembangunan Jembatan Candinegoro memiliki nilai anggaran sekitar Rp1,46 miliar.
Jembatan tersebut memiliki panjang total 16 meter dengan lebar 4 meter. Bupati Subandi meminta pelaksana menerapkan minimal sistem dua shift untuk mempercepat progres pekerjaan.
“PPK tadi menyampaikan deviasinya saat ini mencapai 9 persen. Karena ini pengerjaan jembatan, kami menyarankan agar diberlakukan minimal sistem dua shift untuk mengejar deviasi tersebut,” ujar Subandi.
Menurut Subandi, masih terdapat waktu sekitar 2,5 bulan untuk mengejar ketertinggalan pekerjaan. Ia berharap pembangunan yang dimulai sejak Juli 2026 tersebut dapat diselesaikan pada 16 Desember 2026.
Untuk memastikan target tersebut tercapai, Pejabat Pembuat
Komitmen (PPK) diminta lebih aktif melakukan pemantauan di lapangan. Koordinasi antara PPK, konsultan pengawas dan kontraktor juga harus ditingkatkan agar setiap persoalan yang muncul dapat segera ditindaklanjuti.
“PPK kita sampaikan untuk sering sidak. Sering koordinasi antara konsultan dengan kontraktor. Kalau ada deviasi, panggil ke kantor. Bicarakan kekurangannya apa untuk segera ditindaklanjuti. Biarkan pelaksanaan pekerjaan jembatan ini tepat waktu,” tegasnya.
Bupati Subandi juga menekankan bahwa kendala dalam pelaksanaan pekerjaan tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan target yang telah ditetapkan. Menurutnya, kebutuhan material dan tenaga kerja yang sebelumnya telah disepakati harus dipastikan tersedia untuk mendukung percepatan proyek.
Salah satu kendala yang turut menjadi perhatian adalah kondisi aliran air sungai di sekitar lokasi pekerjaan fondasi. Namun, Subandi menilai kondisi tersebut seharusnya telah diperhitungkan sejak tahap perencanaan pembangunan.
“Tidak bisa beralasan karena air. Sebelum bekerja kan sudah ada perencanaan. Karena itu, saya sampaikan kepada PPK dan konsultan pengawas agar pengawasan diperketat. Jika deviasi 9 persen ini bisa dikejar, saya yakin proyek selesai tepat waktu dan kualitas pekerjaan tetap terjaga,” katanya.
Sementara itu, Konsultan Pengawas Proyek, Umar, menjelaskan bahwa pekerjaan pembangunan Jembatan Candinegoro telah memasuki minggu ke-11. Berdasarkan evaluasi per Senin, 5 Oktober 2026, realisasi progres fisik proyek telah mencapai 52,64 persen.
Namun, realisasi tersebut masih mengalami deviasi sekitar minus 9,94 persen. Untuk mengejar ketertinggalan itu, pelaksana menerapkan strategi percepatan atau catch-up plan dengan sistem kerja 24 jam serta menambah alokasi tenaga kerja.
“Kami membagi pengerjaan menjadi dua tim dengan total 18 pekerja. Pengerjaan dilakukan secara maraton hingga Subuh untuk memaksimalkan tahapan pemasangan struktur baja, diafragma, dan gelagar WF,” jelas Umar.
Ia menyebut terdapat sejumlah kendala teknis dan lapangan yang memengaruhi progres pembangunan. Di antaranya keterlambatan pengiriman material baja Wide Flange (WF) yang harus lebih dahulu melalui proses perakitan di pabrik atau workshop.
Selain persoalan material, akses pengangkutan juga menjadi salah satu kendala di lapangan. Intensitas air sungai di area pekerjaan fondasi turut memengaruhi pelaksanaan pekerjaan.
Meski demikian, pihak konsultan pengawas optimistis percepatan yang dilakukan dapat mengejar keterlambatan. Saat ini pekerjaan pemasangan struktur baja serta pengecoran plat lantai dan plat injak terus digenjot.
“Meskipun ada keterlambatan di awal, dengan percepatan pemasangan baja dan pengecoran plat lantai serta plat injak yang sedang berjalan, kami optimistis proyek selesai tepat waktu,” ujar Umar.
Untuk pekerjaan fondasi, pengecoran pile cap abutment atau fondasi bawah pada sisi utara telah rampung dan saat ini memasuki tahap perawatan beton atau curing. Tahapan tersebut membutuhkan waktu sekitar tujuh hari agar kualitas struktur dapat mencapai kondisi optimal.
Setelah itu, pekerjaan akan difokuskan pada penyelesaian sisi selatan, dinding abutment, serta pier head atau kepala jembatan.
Secara keseluruhan, proyek tersebut mencakup pembangunan dua unit jembatan.
Masing-masing unit memiliki panjang 8 meter sehingga total panjang jembatan mencapai 16 meter dengan lebar 4 meter.
Dengan diberlakukannya sistem kerja 24 jam, penambahan tenaga kerja, serta penguatan pengawasan dan koordinasi, Pemkab Sidoarjo berharap deviasi pekerjaan dapat segera ditekan.
Targetnya, pembangunan Jembatan Candinegoro dapat rampung sesuai jadwal pada Desember 2026 dengan tetap memperhatikan kualitas konstruksi.
Percepatan pekerjaan tersebut sekaligus menjadi perhatian penting bagi pelaksana proyek agar target waktu dan mutu pembangunan dapat berjalan beriringan. Pemerintah Kabupaten Sidoarjo menegaskan pengawasan akan terus dilakukan hingga pekerjaan selesai.
Sumber: Press Release
(AHF/KominfoSidoarjo)




















