SIDOARJO , republiknews.com.— Bupati Sidoarjo H. Subandi, M.Kn., meresmikan Wisata Petik Melon Premium di Desa Sidorejo, Kecamatan Krian, pada Selasa (6/10/2026). Kegiatan yang dikelola BUMDes Sidorejo ini berpusat di Greenhouse Ketahanan Pangan Desa Sidorejo, mengubah lahan yang sebelumnya kurang dimanfaatkan menjadi sumber ekonomi baru bagi warga.
Tiga varietas melon unggulan dikembangkan dalam sistem rumah kaca tersebut, yaitu Sweet Hami, Sweet Net 9, dan Sweet Lavender. Inovasi ini sekaligus membuka peluang wisata petik langsung bagi pengunjung.
Bupati Subandi sangat mengapresiasi langkah inovatif Pemerintah Desa Sidorejo bersama BUMDes. Menurutnya, pemanfaatan lahan dengan sistem greenhouse memungkinkan budidaya tetap berjalan optimal meski memasuki musim hujan.
“Inovasi Pak Lurah ini luar biasa, terutama BUMDes. Saya mengajak Dinas Pertanian nanti bekerja sama dengan kepala desa, berkolaborasi, supaya pemerintah bisa menganggarkan, terutama untuk peningkatan ketahanan pangan,” ujar Subandi saat peresmian.
Pengelola mencatat, dengan modal sekitar Rp25 juta, budidaya melon premium ini mampu menghasilkan pendapatan hingga Rp44 juta, atau keuntungan bersih mendekati Rp19 juta. Potensi tersebut diyakini akan semakin besar jika dikembangkan di lahan yang lebih luas.
“Ini tadi baru satu orang yang mengerjakan. Kalau kita punya lahan luas, peningkatan penghasilan kita juga tambah tinggi. Kalau PAD-nya tinggi, perangkat juga sejahtera. Lingkungan setempat juga bisa merasakan manfaat dari lahan-lahan yang ada di sekitarnya,” ungkapnya.
Subandi mendorong seluruh kepala desa di Sidoarjo untuk berinovasi memanfaatkan lahan kosong, termasuk melalui dukungan dana Bantuan Keuangan Khusus (BKK). Ia pun menyampaikan harapan agar Sidoarjo dikenal sebagai kawasan sentra wisata dan produksi melon premium.
“Kita siapkan dan kita anggarkan. Harapannya seluruh kepala desa bisa mengembangkan potensi masing-masing, sehingga minimal Sidoarjo ini bisa menjadi kota petik melon. Ini harapan kita,” tegasnya.
Kualitas rasa melon yang manis dinilai menjadi modal utama untuk menembus pasar modern. Pengembangan ini diharapkan tak hanya memperkuat ketahanan pangan desa, tetapi juga membuka lapangan kerja baru serta meningkatkan pendapatan asli desa.
(AHF/KominfoSidoarjo)




















