Example floating
Example floating
1 Mei 2026
Sidoarjo

Sebar Bibit Kemiri dan Cemara Gunung di Tahura Malang Jatim, Untuk Rehabilitasi Hutan dan Mitigasi Bencana Melalui Drone

×

Sebar Bibit Kemiri dan Cemara Gunung di Tahura Malang Jatim, Untuk Rehabilitasi Hutan dan Mitigasi Bencana Melalui Drone

Sebarkan artikel ini
Insert Foto : Prof.Dr.Ir.Abdul Hamid.MP Peneliti Utama BRIN/BRIDA Jawa Timur.

Republiknews.com,Surabaya.
Hari ini ,Rabu( 11/ 3/ 2026), dilaksanakan tahap pertama penanaman bibit kemiri dan cemara gunung menggunakan teknologi drone, yaitu dengan cara menjatuhkan bibit ke permukaan tanah pada kawasan hutan gundul yang sangat curam. Lokasi tersebut selama ini sulit dijangkau manusia sehingga penanaman secara manual hampir tidak mungkin dilakukan.

Kegiatan ini merupakan bagian dari kerjasama antara Jepang, BRIN, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, serta Universitas Budi Luhur (UBL) Jakarta dalam upaya memanfaatkan teknologi drone untuk rehabilitasi hutan, pengendalian kerusakan lingkungan, serta mitigasi berbagai bencana alam.

Pemanfaatan teknologi ini diharapkan menjadi salah satu solusi inovatif dalam mengatasi kerusakan hutan, erosi, serta potensi bencana alam di wilayah pegunungan dan daerah rawan longsor.

Manfaat Penggunaan Drone untuk Penanaman Bibit

Penggunaan drone dalam kegiatan penanaman hutan memberikan berbagai manfaat penting, antara lain:

1. Menjangkau wilayah yang sulit diakses
Banyak lahan hutan gundul berada pada lereng yang sangat curam dan berbahaya. Drone mampu menjangkau area tersebut tanpa harus mempertaruhkan keselamatan tenaga lapangan.

2. Efisiensi waktu dan tenaga
Jika penanaman manual membutuhkan waktu berhari-hari dengan banyak tenaga kerja, drone mampu menjatuhkan ratusan hingga ribuan bibit hanya dalam waktu singkat.

3. Distribusi bibit lebih merata
Dengan bantuan pemetaan GPS, drone dapat menyebarkan bibit secara merata di area yang luas sehingga peluang keberhasilan rehabilitasi lebih besar.

4. Mengurangi risiko bagi manusia
Medan ekstrem seperti tebing atau lereng terjal sering menjadi lokasi rawan kecelakaan. Teknologi drone meminimalkan risiko tersebut.

Evaluasi Setelah Tiga Minggu

Sekitar tiga minggu ke depan, tim akan melakukan evaluasi untuk melihat keberhasilan bibit yang telah dijatuhkan oleh drone. Beberapa hal yang akan diamati antara lain:

Jumlah bibit yang berhasil tumbuh

Kondisi bibit setelah adaptasi dengan tanah dan lingkungan

Pengaruh cuaca serta kelembaban tanah

Data tersebut akan digunakan untuk menghitung persentase keberhasilan tumbuh (survival rate).

Perhitungan Persentase Tumbuh

Persentase tumbuh dihitung dengan rumus sederhana:

Persentase Tumbuh = (Jumlah bibit hidup / Jumlah bibit yang dijatuhkan) × 100%

Hasil perhitungan ini akan menjadi indikator apakah metode penanaman menggunakan drone efektif untuk diterapkan secara lebih luas.

Perbandingan Biaya dengan Penanaman Manual

Pada wilayah dengan kemiringan ekstrem, penanaman manual memiliki beberapa kendala:

Membutuhkan banyak tenaga kerja

Risiko kecelakaan cukup tinggi

Transportasi bibit sulit

Waktu penanaman jauh lebih lama

Sementara dengan drone:

Operasional cukup dilakukan oleh beberapa operator

Penanaman dapat dilakukan dalam hitungan jam

Area luas dapat dijangkau dengan cepat

Risiko bagi manusia jauh lebih kecil

Dalam kondisi medan ekstrem, penggunaan drone dapat menghemat biaya operasional hingga sekitar 40–70% dibanding metode manual.

Kelebihan Lain Teknologi Drone

Selain untuk penanaman hutan, drone juga memiliki berbagai fungsi strategis dalam pengelolaan lingkungan dan penanggulangan bencana, antara lain:

1. Membantu pemadaman kebakaran hutan
Drone dapat memantau titik api secara cepat bahkan menjangkau lokasi kebakaran yang sulit diakses.

2. Pengawasan pencurian kayu (illegal logging)
Dengan pemantauan udara, aktivitas pencurian kayu dapat lebih cepat terdeteksi sehingga pengawasan kawasan hutan menjadi lebih efektif.

3. Monitoring berbagai bencana alam
Drone dapat digunakan untuk memantau banjir, longsor, erupsi gunung, serta kerusakan lingkungan lainnya secara cepat dan akurat.

4. Distribusi bantuan logistik pada daerah terisolasi
Drone juga mampu mengangkut makanan siap saji, obat-obatan, serta kebutuhan darurat lainnya ke daerah yang terisolasi akibat bencana, seperti wilayah yang terendam banjir atau daerah yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

Harapan ke Depan

Jika metode ini menunjukkan tingkat keberhasilan tumbuh yang baik, maka teknologi drone dapat menjadi model baru rehabilitasi hutan dan mitigasi bencana di Indonesia, terutama untuk kawasan pegunungan dan lahan kritis yang selama ini sulit dijangkau oleh metode konvensional.

Kerjasama Jepang – BRIN – Pemerintah Provinsi Jawa Timur – Universitas Budi Luhur Jakarta ini diharapkan menjadi langkah awal pengembangan teknologi drone untuk perlindungan lingkungan, pengendalian bencana, serta pelayanan kemanusiaan, demi menjaga kelestarian alam dan keselamatan masyarakat.

 

Penulis:
Prof. Dr. Ir. Abdul Hamid, MP
Peneliti Utama BRIN / BRIDA Jawa Timur.

 

(AHF)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *