Ruang Iklan
AdvetorialGorontalo

Dari Drone Raksasa hingga Pesan Prabowo, Hengky Honandar Bawa Semangat PENAS ke Bitung

×

Dari Drone Raksasa hingga Pesan Prabowo, Hengky Honandar Bawa Semangat PENAS ke Bitung

Sebarkan artikel ini

RepublikNews, Gorontalo – Sebuah drone berukuran besar menggantungkan perhatian Hengky Honandar di tengah riuh arena Pekan Nasional Petani dan Nelayan (PENAS) XVII 2026 di Limboto, Kabupaten Gorontalo.

 

Wali Kota Bitung itu berhenti. Matanya mengamati teknologi pertanian yang mampu terbang membawa beban, menyemprot pestisida, menebar pupuk, memetakan lahan, hingga memonitor tanaman secara presisi.

 

Di tengah deretan benih unggul, mesin pertanian, dan inovasi agribisnis, drone itu seperti membawa pesan sederhana: cara bertani sedang berubah.

 

Dan, bagi Hengky, Bitung tak boleh sekadar menonton perubahan tersebut.

 

“Pertanian masa depan harus bertumpu pada inovasi dan teknologi. Kita tidak bisa terus mengandalkan pola-pola lama jika ingin meningkatkan produktivitas dan daya saing,” kata Hengky saat meninjau arena PENAS.

Ia datang bersama Ketua TP PKK Kota Bitung Ellen Honandar Sondakh, Kepala BKPSDMD Give R. Mose, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Steven Prok, Ketua KTNA Kota Bitung Lily Kadeke, serta sejumlah penyuluh pertanian.

 

PENAS XVII bukan perjalanan sehari bagi rombongan Pemerintah Kota Bitung. Hengky telah berada dalam pusaran agenda nasional itu sejak pembukaan, Sabtu, 20 Juni 2026.

 

Saat itu, ribuan petani dan nelayan dari berbagai penjuru Indonesia memenuhi arena kegiatan. Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka membuka hajatan nasional tersebut di hadapan jajaran kementerian dan para kepala daerah.

 

Bagi Hengky, PENAS tak semestinya berhenti sebagai seremoni dan pameran tahunan. Ia melihat arena itu sebagai ruang belajar. Tempat daerah mengintip masa depan pertanian sekaligus mencari jawaban atas persoalan pangan yang kian kompleks.

Perubahan iklim, menyusutnya tenaga kerja produktif di sektor pertanian, hingga tuntutan meningkatkan produksi pangan menjadi tantangan yang tak mungkin terus dijawab dengan cara lama.

 

“Di sini kita melihat langsung bagaimana teknologi mampu menjawab berbagai persoalan pertanian. Pengetahuan seperti ini harus dibawa pulang dan menjadi inspirasi bagi pengembangan sektor pertanian di Kota Bitung,” ujar Hengky.

 

Karena itu, ia menyusuri stan demi stan. Melihat teknologi pascapanen, alat dan mesin pertanian, benih unggul, hingga produk hasil riset perguruan tinggi dan lembaga penelitian.

 

Namun perjalanan PENAS tahun ini tak hanya berbicara tentang mesin dan kecanggihan teknologi.

 

Empat hari setelah pembukaan, Rabu, 24 Juni 2026, suasana Limboto berubah. Presiden Prabowo Subianto hadir di puncak PENAS XVII KTNA 2026.

 

Hengky berada di antara para kepala daerah yang mengikuti acara tersebut. Hadir pula Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus dan Wakil Gubernur Victor Mailangkay.

Di hadapan ribuan petani dan nelayan, Prabowo membawa ingatan peserta jauh ke masa awal Republik berdiri.

 

Indonesia, kata dia, pernah lahir tanpa anggaran negara dan belum mampu menggaji para pejuang serta tentara. Namun Republik bertahan karena rakyat memilih berdiri bersama negara yang baru merdeka.

 

Dalam masa sulit itu, petani dan nelayan mengambil peran yang kerap luput dari cerita besar sejarah: memberi makan para pejuang.

 

“Petani dan nelayan adalah kekuatan bangsa. Mereka adalah tulang punggung Indonesia yang harus terus kita perhatikan, lindungi, dan sejahterakan,” kata Prabowo.

 

Pesan itu seperti melengkapi apa yang dilihat Hengky selama beberapa hari di arena PENAS.

 

Di satu sisi, pertanian bergerak menuju drone, pemetaan presisi, mesin modern, dan teknologi cerdas. Di sisi lain, manusia yang berdiri di balik sawah, kebun, dan laut tetap menjadi pusat dari seluruh perubahan tersebut.

 

Teknologi boleh berubah. Mesin boleh semakin canggih. Tetapi tujuan akhirnya tetap sama: membuat petani dan nelayan hidup lebih baik.

Prabowo menegaskan negara harus hadir memastikan hasil kerja petani dihargai secara layak. Kebijakan pemerintah, menurut dia, mesti memberi perlindungan kepada masyarakat kecil dan membuka kesempatan bagi rakyat untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik.

 

Bagi Bitung—kota yang kehidupan masyarakatnya tak bisa dilepaskan dari laut dan sektor pangan—pesan PENAS itu memiliki arti tersendiri.

 

Hengky ingin pengetahuan yang diperoleh di Gorontalo tidak berhenti sebagai dokumentasi perjalanan dinas. Inovasi, jejaring, dan pengalaman dari PENAS diharapkan dapat menjadi referensi dalam memperkuat ketahanan pangan dan pemberdayaan masyarakat.

 

Drone raksasa yang mencuri perhatian di arena pameran mungkin hanyalah satu dari ratusan teknologi yang dipamerkan.

 

Namun dari Limboto, Hengky membawa pulang sebuah gambaran tentang masa depan: petani dan nelayan yang tetap menjadi tulang punggung bangsa, tetapi bekerja dengan pengetahuan, teknologi, dan keberpihakan negara.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *