10 Agustus 2026. DPRD SIDOARJO
10 Agustus 2026. DPRD SIDOARJO
Banner Cukai Rokok Ilegal
Banner Cukai Rokok Ilegal
Aceh Timur

Bendera Putih Kembali Berkibar di Aceh Timur, Ratusan Korban Banjir Kecewa Proses Pemulihan Pascabanjir Belum Jelas

×

Bendera Putih Kembali Berkibar di Aceh Timur, Ratusan Korban Banjir Kecewa Proses Pemulihan Pascabanjir Belum Jelas

Sebarkan artikel ini

ACEH TIMUR. Sembilan bulan berlalu sejak banjir besar melanda Aceh Timur akhir 2025, namun ribuan korban di sejumlah gampong di Aceh Timur kecewa.

Untuk ungkapkan kekecewaan tersebut mengibarkan bendera putih sebagai simbol protes sekaligus ungkapan kekecewaan mendalam terhadap lambatnya penanganan pemulihan pascabencana.

Anwar, salah satu warga di Kecamatan Pante Bidari, menyampaikan bahwa hingga saat ini banyak korban belum merasakan adanya kehadiran pemerintah dalam bentuk bantuan yang layak dan tepat sasaran.

“Kami kecewa. Sudah sembilan bulan berlalu, bantuan Jaring Pengaman Sosial (Jadup), stimulan rumah rusak ringan maupun sedang, serta pemulihan infrastruktur ekonomi nyaris belum tersentuh di gampong kami,” ujar Anwar kepada media ini. Sabtu 29/08/2026.

Ia mencontohkan Gampong Seuneubok Saboh disebut sebagai salah satu desa terparah terdampak banjir, namun hingga kini belum ada satu pun warga yang menerima bantuan stimulan, Jadup, DTH, maupun program pemulihan lainnya. Yang baru terealisasi hanya pembangunan sekitar 40 unit Hunian Sementara (Huntara).

Anwar juga menuding adanya ketidaktepatan sasaran dalam penyaluran bantuan.

Diduga data penerima tidak akurat, sehingga bantuan justru lebih banyak mengalir ke wilayah yang tidak terdampak serius banjir.

“Bahkan lebih dari 50 unit Huntara di Pante Bidari belum juga selesai dibangun — seperti di Gampong Alue Ie Mirah, Pante Panah dan beberapa gampong lainnya. Pekerjaan terhenti dan nasib kami tak jelas,” paparnya.

Dari sisi pemulihan ekonomi, ribuan hektar sawah dan lahan pertanian masih belum bisa difungsikan akibat kerusakan saluran air dan pendangkalan yang terjadi pascabanjir. Petani tidak bisa menanam dan kehilangan mata pencaharian.

Secara keseluruhan, penyaluran bantuan stimulan rumah rusak ringan dan sedang serta Jadup baru mencapai sekitar 25 persen dari total data korban banjir yang tercatat.

“Angka ini menunjukkan pemerintah lamban, bahkan bisa dikatakan gagal mengurus pemulihan banjir. Apakah mereka tidak melihat penderitaan kami sehari-hari?” tegas Anwar.

Melalui aksi kibarkan bendera putih ini, para korban mendesak pemerintah pusat maupun daerah untuk segera menuntaskan penyaluran bantuan Jadup dan stimulan rumah rusak.

Menyelesaikan pembangunan Huntara yang belum selesai, memperbaiki data penerima agar bantuan tepat sasaran, mempercepat pemulihan infrastruktur ekonomi dan lahan pertanian terdampak

“Kami hanya menuntut hak kami yang yang telah dijanjikan oleh pemerintah. semestinya diterima sebagai korban bencana. Jangan biarkan kami menunggu lebih lama lagi,” pungkas Anwar. (Usm)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *