Republiknews Com– Indonesia tidak kekurangan Generasi yang hebat. Guru Besar ke-212 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof Dr Hendro Juwono MSi, berhasil BBM Research Octane Number (RON) yang mencapai nilai 98 hingga 102, dari bahan campuran plastik.
Penelitian Prof Dr Hendro Juwono MSi perlu diapresiasi yang luar biasa, hal ini tentunya menjadi solusi baik pemanfaatan limbah plastik bagi lingkungan hidup sekaligus solusi energa terkait BBM .
Diketahui limbah plastik di Indonesia menjadi masalah serius bagi lingkungan hidup, dengan penelitian dan hasil pengujian Guru Besar ke-212 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof Dr Hendro Juwono MSi ,plastik yang telah diolah itu saat diuji menunjukkan angka Research Octane Number (RON) yang mencapai nilai 98 hingga 102, lebih tinggi dari RON Pertamax maupun BBM lain di SPBU swasta.
Dalam penelitiannya degradasi plastik dan mencampurkan dengan biomassa menjadi biofuel. Plastik adalah turunan dari bahan tak terbarukan karena senyawa yang dimiliki plastik punya kesamaan dengan senyawa bahan bakar, seperti minyak bumi dan gas.
Angka RON yang muncul menunjukkan kualitas lebih bagus daripada bahan bakar yang sekarang beredar di masyarakat,” ujar Prof Hendro dalam keterangan tertulis yang diterima detikJatim, Kamis (6/2/2025) lalu.
Profesor dari Fakultas Sains dan Analitika Data (FSAD) ITS itu pun termotivasi untuk meneliti dengan metode pirolisis terhadap polimer plastik yang mudah terdegradasi dalam plastik. Dalam penelitian itu plastik yang telah diolah dilakukan pengujian.
“Namun walupun angka RON menunjukkan kualitas bagus, tetapi masih ada kekurangan. Untuk membuat limbah plastik menjadi gasoline diperlukan suhu sebesar 400 derajat celsius di mana untuk mengadakan suhu itu diperlukan tegangan listrik yang cukup besar” terangnya.
Dalam penelitian dan pengujiannya,
Untuk mengatasi ini dia kemudian melakukan pencampuran limbah plastik itu dengan biomassa seperti minyak nyamplung, crude palm oil (CPO), atau waste cooking oil (WCO). Inisiatif ini dia lakukan karena dalam prosesnya biomassa hanya membutuhkan suhu 250 derajat celsius.
Dengan hasil, penghematan biaya memungkinkan dilakukan dari hasil pencampuran biomassa nyamplung, WCO, dan CPO dengan limbah plastik. Saat kedua bahan itu dicampur suhu yang diperlukan untuk proses biofuel hanya 300 derajat celsius. Selain hemat, bahan yang dibutuhkan lebih murah dan mudah didapat.
Dari serangkaian penelitian tersebut menjadi bahan orasi ilmiah dalam pengukuhannya sebagai Profesor ITS.
Proses penelitian yang membutuhkan kesabaran dan waktu yang tidak singkat ini diharap bisa menjadi solusi dan membantu
penyelesaian masalah lingkungan dan energi
“Penelitian yang dia lakukan diharap mampu membantu pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin 7 dan 12. Ia berharap riset itu bisa membantu penyelesaian masalah lingkungan dan energi.” Ujarnya. (Suryo)
(Sumber )



















