Republiknews.com,SIDOARJO – Pemerintah Kabupaten Sidoarjo terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan ibu dan bayi melalui penguatan kolaborasi lintas sektor.
Upaya ini diwujudkan dalam kegiatan peningkatan kesadaran penerapan Respectful Maternity and Newborn Care (RMNC) yang digelar di Hotel Aston Sidoarjo, Jumat (10/4/2026).
Sekretaris Daerah Kabupaten Sidoarjo, Fenny Apridawati, yang mewakili Bupati Subandi, menegaskan bahwa kolaborasi menjadi kunci utama dalam menekan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di wilayahnya.
“Tanpa kolaborasi yang kuat dari seluruh pihak, angka kematian ibu dan bayi sulit untuk ditekan,” ujarnya dalam sambutan.
Kegiatan tersebut turut dihadiri sejumlah pemangku kepentingan di bidang kesehatan, di antaranya Kepala Dinas Kesehatan Sidoarjo Lakshmie Herawati Yuwantina, perwakilan POGI, IDAI, IBI, serta Yayasan Project HOPE melalui program HER WAY.
Dalam kesempatan itu, juga dilakukan penandatanganan komitmen bersama sebagai langkah konkret dalam penanggulangan AKI dan AKB di Kabupaten Sidoarjo.
Fenny menjelaskan, AKI dan AKB masih menjadi indikator penting dalam pembangunan kesehatan dan berpengaruh terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Meski terdapat wacana perubahan indikator ke arah stunting, keselamatan ibu dan bayi tetap menjadi prioritas utama pemerintah daerah.
Selain itu, ia menyoroti pentingnya sistem pelaporan Maternal Perinatal Death Notification (MPDN) yang kini telah berjalan secara online. Menurutnya, sistem pelaporan yang cepat dan akurat sangat menentukan efektivitas intervensi yang dilakukan.
“Melalui pelaporan MPDN yang tepat waktu, pemerintah dapat mengambil langkah yang cepat dan terukur,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Sidoarjo menyampaikan bahwa meskipun secara nasional tren AKI dan AKB mengalami penurunan, kondisi di Kabupaten Sidoarjo masih memerlukan perhatian serius.
Ia mengungkapkan bahwa angka kematian bayi di Sidoarjo masih tergolong tinggi, meskipun berada di bawah rata-rata nasional. Selain itu, angka stunting juga mengalami peningkatan dari 8,4 persen menjadi 10,6 persen pada tahun sebelumnya.
“Kondisi ini menjadi tantangan bersama yang harus ditangani melalui langkah konkret dan kolaboratif,” tegasnya.
Sebagai upaya percepatan penurunan AKI dan AKB, Pemkab Sidoarjo telah menjalankan sejumlah program strategis, di antaranya program 1 Puskesmas 1 Obgyn (1P1O), peningkatan layanan kesehatan ibu dan anak, optimalisasi penggunaan buku KIA, serta program “Sido Simpati” (Spesialis dan Profesi Sidoarjo Siap Mendampingi Ibu Anak Terlindungi).
Selain itu, rumah sakit di Sidoarjo juga didorong untuk menyediakan rumah singgah bagi ibu hamil dengan risiko tinggi guna memastikan penanganan yang lebih cepat dan optimal.
“Harapan kami, angka kematian ibu dan bayi di Sidoarjo dapat terus ditekan hingga mendekati nol,” pungkas Fenny.
(AHF/KominfoSidoarjo)




















