Republiknews.com,Surabaya — Peran Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Jawa Timur kini menjadi perhatian berbagai kalangan, seiring menguatnya dorongan agar lembaga tersebut kembali menegaskan jati dirinya sebagai pusat penghasil riset dan inovasi yang berdampak nyata bagi pembangunan daerah.
Di tengah besarnya harapan terhadap kebijakan berbasis ilmu pengetahuan, muncul refleksi dari internal bahwa aktivitas BRIDA selama ini masih cenderung berfokus pada pemetaan, penilaian, dan pelombaan inovasi yang telah dihasilkan oleh perangkat daerah. Kegiatan tersebut dinilai tetap memiliki nilai penting sebagai bentuk apresiasi dan dokumentasi, namun belum sepenuhnya mencerminkan peran utama BRIDA sebagai lembaga yang seharusnya melahirkan gagasan dan riset dari dalam tubuhnya sendiri.
Seorang sumber internal menyampaikan bahwa jika kondisi ini terus berlangsung, maka secara perlahan akan terjadi pergeseran fungsi yang mendasar. BRIDA berpotensi lebih dikenal sebagai lembaga yang menilai inovasi, bukan sebagai penghasil inovasi itu sendiri. Padahal, kekuatan utama sebuah lembaga riset justru terletak pada kemampuan internalnya dalam menghasilkan ide, kajian ilmiah, dan solusi strategis.
Dalam konteks tersebut, perhatian juga tertuju pada masih terbatasnya output ilmiah yang dihasilkan. Publikasi pada jurnal internasional bereputasi, termasuk yang terindeks Scopus, sejatinya menjadi salah satu tolok ukur yang tidak dapat dihindari dalam menilai kinerja lembaga riset. Selain itu, kontribusi dalam bentuk rekomendasi kebijakan berbasis data dan inovasi aplikatif juga menjadi indikator penting yang mencerminkan kebermanfaatan lembaga bagi pemerintah daerah.

Kondisi ini kemudian memunculkan kebutuhan akan penguatan arah kebijakan, baik dari sisi internal maupun dukungan eksternal. Peran Gubernur Jawa Timur dinilai strategis dalam memberikan penegasan arah agar BRIDA kembali berfokus pada mandat utamanya. Di sisi lain, kepemimpinan internal juga diharapkan mampu membuka ruang dialog yang konstruktif untuk menyatukan persepsi dan mempercepat langkah pembenahan.
Seiring dengan akan berakhirnya masa tugas Kepala BRIDA pada Juni 2026, harapan terhadap kepemimpinan ke depan pun mengemuka. Regenerasi dipandang sebagai momentum penting untuk menghadirkan sosok pemimpin yang tidak hanya memahami dunia riset secara konseptual, tetapi juga memiliki kemampuan mengaitkan riset dengan pendekatan kewirausahaan inovatif. Sosok tersebut diharapkan mampu menjembatani hasil penelitian dengan kebutuhan riil masyarakat dan dunia industri, sehingga BRIDA tidak hanya menghasilkan kajian akademis, tetapi juga inovasi yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.
Harapan tersebut juga disertai penegasan bahwa apresiasi terhadap kepemimpinan saat ini tetap terjaga. Masa kepemimpinan yang akan segera berakhir dipandang telah memberikan kontribusi dalam perjalanan kelembagaan BRIDA. Namun demikian, tantangan ke depan dinilai membutuhkan penguatan kapasitas dan pendekatan baru yang lebih adaptif terhadap perkembangan zaman.
Dalam pandangan sejumlah pihak, penguatan BRIDA tidak dapat ditunda. Lembaga ini memegang peran penting sebagai wajah intelektual pemerintah daerah. Kualitasnya akan sangat menentukan arah kebijakan publik ke depan. Oleh karena itu, langkah pembenahan yang menyentuh aspek fungsi, sistem, dan budaya kerja menjadi kebutuhan yang mendesak.
Dengan potensi sumber daya yang dimiliki serta dukungan kebijakan yang tepat, BRIDA Jawa Timur diyakini mampu bertransformasi menjadi lembaga riset yang tidak hanya hadir secara struktural, tetapi juga berkontribusi secara nyata, baik dalam pengembangan ilmu pengetahuan maupun dalam mendorong inovasi yang berdampak luas bagi masyarakat.
Penulis:
4 Peneliti Utama Brida
(AHF)




















