Banner Cukai Rokok Ilegal
Banner Cukai Rokok Ilegal
Jawa Timur

BI Jatim Luncurkan Jelajah UMKM dan Pondok Pesantren 2026

×

BI Jatim Luncurkan Jelajah UMKM dan Pondok Pesantren 2026

Sebarkan artikel ini

Jatim– Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Jawa Timur resmi meluncurkan program Jelajah UMKM dan Pondok Pesantren Jawa Timur Tahun 2026 melalui kegiatan Kick Off yang digelar di Surabaya, Kamis (30/7/2026).

Mengusung tema “Jelajah Ekonomi Berdaya: Merangkai Kemandirian, Inovasi, dan Keberlanjutan dari Ekosistem Lokal”, program ini menjadi langkah awal memperkuat pengembangan UMKM, klaster pangan, desa wisata, koperasi, serta pondok pesantren sebagai penggerak ekonomi daerah.

Kegiatan dihadiri Asisten Administrasi Umum Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur, R. Heru Wahono Santoso, mewakili Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur Ibrahim, pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), perwakilan koperasi pondok pesantren, asosiasi, akademisi, pelaku UMKM, pimpinan pondok pesantren, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

R. Heru Wahono Santoso selaku perwakilan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, menyampaikan apresiasi kepada Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur atas penyelenggaraan program tersebut sebagai bentuk kolaborasi dalam memperkuat fondasi ekonomi daerah dari tingkat akar rumput.

Menurutnya, pembangunan ekonomi yang berkualitas harus dimulai dari desa, petani, koperasi, UMKM, hingga pondok pesantren yang terus berinovasi dan berkembang. Ia juga mengapresiasi insan media yang dinilai memiliki peran strategis dalam mengangkat potensi daerah serta memperluas jangkauan promosi produk-produk lokal.

Heru menyampaikan, di tengah tantangan ekonomi global, Jawa Timur mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Pada tahun 2025, ekonomi Jawa Timur tumbuh sebesar 4,93 persen yang ditopang oleh konsumsi rumah tangga, perdagangan, industri pengolahan, sektor pertanian, serta meningkatnya kinerja ekspor.

Selain itu, inflasi Jawa Timur juga tetap terkendali di kisaran 2,9 persen sebagai hasil sinergi antara Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Bank Indonesia, pemerintah kabupaten/kota, dan seluruh pemangku kepentingan dalam menjaga stabilitas harga serta daya beli masyarakat.

Menurut Heru, pondok pesantren kini tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan, tetapi juga berkembang menjadi pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui kewirausahaan, koperasi, ekonomi syariah, serta berbagai unit usaha produktif yang memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.

“Program ini merupakan ekosistem ekonomi yang mampu menghubungkan petani, UMKM, koperasi, industri, dan pondok pesantren dengan pasar yang lebih luas. Desa harus terintegrasi dengan sektor pariwisata, perdagangan, dan industri sehingga tercipta rantai nilai yang saling menguatkan,” kata Heru.

Ia menambahkan, penguatan ekosistem tersebut memerlukan dukungan pemerintah, Bank Indonesia, lembaga keuangan, akademisi, dunia usaha, media massa, dan seluruh pemangku kepentingan agar mampu meningkatkan produktivitas, memperkuat daya saing, sekaligus menjaga stabilitas ekonomi di tengah dinamika global.

Heru berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai agenda seremonial, tetapi menjadi awal semakin kuatnya sinergi antara pemerintah, Bank Indonesia, koperasi, UMKM, pondok pesantren, akademisi, dunia usaha, dan media dalam membangun perekonomian Jawa Timur yang lebih inklusif, tangguh, dan berkelanjutan.

Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur Ibrahim mengatakan kegiatan Jelajah UMKM dan Pondok Pesantren bukan sekadar agenda kunjungan lapangan maupun pembelajaran, melainkan menjadi ruang bersama untuk memperkuat kapasitas pelaku usaha sekaligus memperluas jejaring ekonomi daerah.

Ia menjelaskan, program tersebut telah memasuki penyelenggaraan tahun ketiga dan terus dikembangkan agar mampu memberikan manfaat yang semakin luas bagi pengembangan UMKM dan ekonomi syariah di Jawa Timur.

“Melalui kegiatan ini kita ingin menghadirkan ruang belajar bersama. Kita akan menyaksikan berbagai success story, berbagi pengalaman, menggali praktik-praktik terbaik (best practices), sekaligus melihat bagaimana keberhasilan di suatu daerah dapat direplikasi di daerah lainnya,” ujar Ibrahim.

Dalam sambutannya, Ibrahim menegaskan terdapat tiga aspek utama yang menjadi fondasi pengembangan UMKM dan ekonomi pondok pesantren, yakni konsistensi, inovasi, dan kolaborasi.

Menurutnya, konsistensi menjadi modal penting karena keberhasilan usaha tidak diperoleh secara instan, melainkan melalui proses panjang yang diwarnai pembelajaran, ketekunan, serta kemampuan menghadapi berbagai tantangan.

Ia menjelaskan, peserta akan mempelajari berbagai kisah sukses pengembangan UMKM, desa wisata, hingga pondok pesantren produktif di sejumlah daerah, termasuk Mojokerto dan Banyuwangi, sebagai referensi dalam mengembangkan usaha berbasis potensi lokal.

Selain konsistensi, Ibrahim menilai inovasi menjadi faktor penting agar pelaku usaha mampu beradaptasi terhadap perubahan teknologi, dinamika pasar, serta perkembangan ekonomi global. Menurutnya, inovasi mampu menciptakan nilai tambah sekaligus membuka peluang ekonomi baru melalui digitalisasi, pengembangan produk unggulan, pertanian organik, maupun pemberdayaan masyarakat.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antarpemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, Bank Indonesia, perbankan, akademisi, dunia usaha, asosiasi, hingga masyarakat dalam membangun ekosistem usaha yang sehat, memperluas akses pasar, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, dan memperkuat pembiayaan.

Ibrahim berharap berbagai praktik baik yang diperoleh selama kegiatan berlangsung dapat menjadi inspirasi bagi UMKM maupun pondok pesantren lainnya untuk meningkatkan daya saing serta memperluas akses pasar hingga tingkat nasional dan internasional.

Melalui program Jelajah UMKM dan Pondok Pesantren 2026, Bank Indonesia bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur berupaya memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam membangun ekosistem ekonomi lokal yang mandiri, inovatif, dan berkelanjutan, sekaligus mendorong lahirnya lebih banyak pelaku usaha yang mampu menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi daerah.
(Redho)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *