Example floating
Example floating
Sidoarjo

Model Wisata Alam Berbasis Kolaborasi dan Pemberdayaan Lokal di Kopeng Treetop Salatiga

×

Model Wisata Alam Berbasis Kolaborasi dan Pemberdayaan Lokal di Kopeng Treetop Salatiga

Sebarkan artikel ini
Foto : Wisata alam Kopeng.

Republiknews.com, Salatiga.
Dalam perjalanan pulang kampung ke rumah kel mertua di Salatiga, saya menyempatkan diri singgah di kawasan wisata Kopeng, tepatnya di Kopeng Treetop Adventure Park. Kunjungan singkat ini justru memberikan refleksi yang menarik, apalagi melihat cucuku syahes yg terguling dan dihimpit ATV yg ia naiki, hehehe. Selanjutnya melihat juga tentang bagaimana sebuah destinasi wisata alam dapat berkembang menjadi penggerak ekonomi lokal berbasis kolaborasi.

Kopeng Treetop bukan sekadar tempat rekreasi, melainkan representasi nyata dari model pengelolaan wisata yang menggabungkan kekuatan pemerintah, swasta, dan masyarakat. Kawasan ini memanfaatkan keindahan hutan pinus sebagai aset utama, yang kemudian dikembangkan menjadi wahana petualangan seperti outbound, flying fox, dan rope course yang menarik bagi berbagai kalangan.

Secara kelembagaan, model kerja sama yang terbangun cukup ideal. Pemerintah, termasuk Perhutani dan pemerintah daerah, berperan dalam penyediaan lahan dan regulasi. Pihak swasta hadir sebagai investor sekaligus pengelola operasional, sementara masyarakat lokal menjadi bagian penting dalam ekosistem melalui penyediaan tenaga kerja, UMKM, serta jasa pendukung lainnya. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa pengelolaan wisata tidak bisa berdiri sendiri, melainkan harus melibatkan banyak pihak secara sinergis.

Dari sisi ekonomi, potensi yang dihasilkan tidaklah kecil. Dengan asumsi kunjungan rata-rata 300 hingga 600 orang per hari dan harga tiket berkisar antara Rp50.000 hingga Rp100.000, maka potensi pendapatan tahunan dapat mencapai kisaran Rp5 miliar hingga Rp15 miliar. Angka ini bahkan belum memasukkan kontribusi sektor turunan seperti parkir, kuliner, homestay, serta jasa transportasi lokal.

Lebih penting dari sekadar angka adalah dampak sosial ekonomi yang dirasakan masyarakat sekitar. Kehadiran Kopeng Treetop membuka lapangan kerja, mendorong tumbuhnya UMKM, serta mengurangi kecenderungan urbanisasi. Masyarakat tidak lagi harus merantau jauh karena peluang ekonomi tersedia di desa mereka sendiri. Selain itu, ada peningkatan kapasitas sumber daya manusia, khususnya dalam bidang pelayanan wisata dan manajemen usaha kecil.

Dari perspektif lingkungan, model ini juga memiliki nilai strategis. Hutan tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan sebagai aset ekonomi yang harus dijaga. Dengan demikian, ada insentif kuat bagi semua pihak untuk menjaga kelestarian alam.

Lebih jauh lagi, apabila hutan pinus Kopeng ini mampu dikelola dalam skema ekonomi hijau—misalnya melalui perdagangan karbon atau kompensasi emisi global (carbon offset) akibat pemanasan global—maka nilai ekonominya akan meningkat secara signifikan. Bukan hanya dari sektor wisata, tetapi juga dari kontribusi terhadap penyerapan karbon dunia. Jika ini terwujud, maka Kopeng tidak hanya menjadi destinasi wisata, tetapi juga bagian dari solusi global terhadap perubahan iklim—sebuah potensi luar biasa yang perlu segera ditangkap secara serius oleh pemerintah dan para pemangku kepentingan.

Namun demikian, model ini masih memiliki ruang perbaikan agar dapat direplikasi secara luas di daerah lain di Indonesia. Setidaknya ada tiga hal utama yang perlu diperkuat. Pertama, kelembagaan lokal seperti BUMDes atau koperasi harus lebih dilibatkan agar manfaat ekonomi lebih merata. Kedua, standarisasi keamanan dan pelayanan wisata perlu ditingkatkan untuk menjaga kepercayaan pengunjung. Ketiga, penguatan promosi digital dan integrasi paket wisata regional akan memperluas jangkauan pasar.

Sebagai sebuah model, Kopeng Treetop menunjukkan bahwa wisata berbasis alam dapat menjadi solusi pembangunan daerah yang inklusif dan berkelanjutan. Meskipun belum sempurna, pendekatan ini sangat memungkinkan untuk direplikasi di berbagai kabupaten di Indonesia, tentu dengan penyesuaian terhadap potensi lokal masing-masing.

Perjalanan pulang kampung kali ini bukan hanya perjalanan silaturahmi, tetapi juga menjadi pengingat bahwa di balik keindahan alam desa, terdapat peluang besar untuk membangun kemandirian ekonomi bangsa.

 

Penulis:

 Prof. Dr. Ir. Hamid, MP
Peneliti Utama BRIN/BRIDA Jawa Timur

 

(AHF)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *