Example floating
Example floating
Sidoarjo

Banjir Surabaya dan Renungan Akhir Tahun: Saat Kota Memasuki Kuartal Kritis

×

Banjir Surabaya dan Renungan Akhir Tahun: Saat Kota Memasuki Kuartal Kritis

Sebarkan artikel ini
Prof. Dr. Ir. Abdul Hamid, MP Peneliti Ahli Utama BRIN / BRIDA Jawa Timur Kepakaran Kebijakan Publik, Lingkungan, dan Kehutanan

Republiknews.com,Surabaya.
Rabu,(7/1/2026) Surabaya di Ujung Tahun: Kota, Banjir, dan Cermin Kesadaran.

Menutup tahun ini, Surabaya kembali menatap wajah lamanya sendiri: genangan air, sirene, dan hujan yang membuka kembali kelemahan kota.

Di sejumlah ruas jalan yang dulu dikenal tangguh, air kini naik tanpa izin—membasahi aspal, halaman rumah, dan hati warganya. Setiap akhir tahun,

Surabaya seolah bercermin: apa yang benar-benar telah kita pelajari dari musim banjir sebelumnya? Dan lebih jauh, ke mana arah kota ini di tengah perubahan iklim dan kepadatan urban yang kian menekan?

Kota di Kuartal Kritis
Dalam kehidupan manusia, ada fase ketika energi masih ada, tetapi daya tahan mulai diuji—fase evaluasi, koreksi, dan pendewasaan. Kota pun mengalami siklus serupa. Dengan segala capaian pembangunannya, Surabaya kini berada di kuartal kritisnya.

Dua dekade terakhir, kota ini melesat: gedung menjulang, jalan bertingkat, taman kota, trotoar ramah pejalan kaki, hingga layanan publik berbasis digital. Namun di balik kemajuan itu, alam mencatat dengan jujur: setiap ruang hijau yang hilang, setiap sungai yang menyempit, dan setiap saluran air yang kehilangan fungsinya. Di sinilah paradoks Surabaya muncul—maju secara fisik, namun rapuh secara ekologis.

Lima Luka Lama yang Tak Kunjung Sembuh

Banjir bukan cerita baru bagi Surabaya. Ia telah menjadi ingatan kolektif yang berulang. Dari kawasan elite seperti Mayjen Sungkono dan HR Muhammad hingga wilayah padat Banyu Urip, Dupak Rukun, dan Tambak Mayor, genangan datang silih berganti. Di wilayah pesisir utara—Kalianak, Morokrembangan, hingga Perak Barat—masalah kian kompleks dengan hadirnya banjir rob.

Akar persoalannya setidaknya mencakup lima hal utama. Pertama, alih fungsi lahan yang masif, terutama di kawasan resapan.

Kedua, pendangkalan sungai dan drainase akibat sedimentasi dan sampah. Ketiga, sistem drainase yang tidak lagi relevan dengan curah hujan ekstrem saat ini.

Keempat, kenaikan muka air laut yang menekan wilayah utara Surabaya. Kelima, rendahnya disiplin sosial dalam menjaga lingkungan.

Banjir, dengan demikian, bukan sekadar persoalan teknis. Ia adalah cermin tata kelola kota yang belum utuh, antara kebijakan, perilaku, dan kesadaran ekologis.

Luka Sosial dan Ekonomi yang Tak Terlihat
Genangan air selalu menyisakan dampak yang lebih luas dari sekadar jalan terendam. Aktivitas ekonomi terhenti, UMKM kehilangan pelanggan, transportasi lumpuh, dan produktivitas warga menurun. Di kawasan padat dan permukiman sederhana, biaya pemulihan menjadi beban berat yang berulang setiap tahun.

Lebih berbahaya lagi, banjir menumbuhkan rasa pasrah. Ketika genangan dianggap hal biasa, daya kritis masyarakat perlahan tumpul. Padahal kota yang sehat bukan hanya diukur dari cepatnya air surut, melainkan dari seberapa cepat kesadaran warganya tumbuh.

Empat Langkah Realistis: Dari Infrastruktur ke Sosial
Menghadapi persoalan ini, Surabaya membutuhkan langkah konkret, bukan sekadar proyek seremonial.
Pertama, pemulihan ekosistem hulu dan daerah aliran sungai (DAS) melalui perlindungan kawasan resapan dan rehabilitasi lingkungan.

Kedua, revitalisasi dan pemeliharaan drainase berbasis data hidrologi yang dilakukan secara rutin dan terintegrasi.
Ketiga, penegakan aturan lingkungan yang konsisten, disertai edukasi publik yang berkelanjutan.

Keempat, pendekatan sosial yang lebih berani—pelibatan masyarakat lokal sebagai Satgas Sosial Drainase, dengan pembinaan, pengawasan, dan insentif resmi dari pemerintah kota.
Ketika warga dilibatkan secara nyata, rasa memiliki terhadap kota akan tumbuh dari bawah.

Banjir dan Krisis Kesadaran
Sesungguhnya, ujian terbesar banjir bukan pada volume air, melainkan pada kedalaman kesadaran manusia. Al-Qur’an telah mengingatkan:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia…”
(QS. Ar-Rum: 41)
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Tidaklah seorang Muslim menanam tanaman, melainkan menjadi sedekah baginya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Pesan ini menegaskan bahwa menjaga lingkungan bukan pilihan, melainkan tanggung jawab moral dan sosial.

Kota adalah Cermin Warganya
Sebuah kota tidak pernah lebih baik dari warganya. Infrastruktur hanyalah alat; mentalitas manusialah penentunya. Menuntut pemerintah sigap harus dibarengi kedisiplinan warga. Menginginkan kota bebas banjir harus dimulai dari hal paling sederhana: menjaga saluran air di sekitar kita sendiri.

Renungan Akhir Tahun: Tentang Warisan

Akhir tahun seharusnya menjadi momen refleksi. Bukan lagi soal seberapa cepat Surabaya tumbuh, tetapi apa yang ia wariskan kepada generasi berikutnya. Kota yang bijak bukan yang paling agresif membangun, melainkan yang mampu menahan diri demi keseimbangan ekologis.

Surabaya kini berada di persimpangan antara ambisi dan kebijaksanaan. Tantangan banjir menuntut kepemimpinan baru—yang tidak hanya membangun beton, tetapi juga menumbuhkan etos ekologis.

Saat Kota dan Manusia Belajar Dewasa
Banjir bukan sekadar air yang meluap, melainkan pesan agar manusia kembali menata diri. Kota, seperti manusia yang menua, akan mencapai titik ketika kekuatan fisik tidak lagi cukup. Namun jika ia belajar bijak dan menjaga keseimbangan dengan alam, masa tuanya justru bisa menjadi masa keemasan.

Di antara genangan akhir tahun ini, semoga Surabaya—dan kita semua—belajar satu hal penting:
kota yang mencintai alamnya adalah kota yang akan bertahan, bahkan di tengah badai.

 

Penulis:
Prof. Dr. Ir. Abdul Hamid, MP
Peneliti Ahli Utama BRIN / BRIDA Jawa Timur
Kepakaran Kebijakan Publik, Lingkungan, dan Kehutanan.

(AHF)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *